⌂ Beranda News Psikolog Ungkap Alasan Cemburu Retroaktif Sering Dikira Gejala OCD
News

Psikolog Ungkap Alasan Cemburu Retroaktif Sering Dikira Gejala OCD

Ilustrasi psikolog sedang berbicara dengan pasangan yang mengalami cemburu retroaktif
Ilustrasi psikolog sedang berbicara dengan pasangan yang mengalami cemburu retroaktif
A A Ukuran Teks16px

Istilah cemburu retroaktif semakin sering membuat orang datang ke psikolog karena merasa mengalami OCD. Mereka merasa terjebak dalam pikiran mengganggu tentang masa lalu pasangan.

Psikolog spesialis kecemasan Brian Thompson Ph. D.

menjelaskan asal-usul istilah ini melalui Psychology Today. Ia mengungkapkan bahwa frasa tersebut bukan istilah resmi dalam psikologi.

Istilah ini lahir dari percakapan netizen di media sosial. Tujuannya menggambarkan rasa tidak nyaman akibat memikirkan masa lalu asmara pasangan.

Kondisi ini membuat seseorang dibayangi pikiran menyakitkan tentang mantan pasangan. Dampaknya tidak hanya cemburu, tetapi juga kecemasan, kemarahan, kesedihan, hingga rasa malu.

Fokus utama cemburu retroaktif bukan ancaman nyata saat ini, melainkan detail hubungan masa lalu. Seseorang bisa mengimajinasikan kemesraan romantis atau aktivitas seksual pasangan dengan mantan.

Terdapat tiga respons refleks untuk meredakan ketidaknyamanan. Pertama, memberondong pasangan dengan pertanyaan detail berulang tentang masa lalunya.

Kedua, berburu informasi tentang mantan pasangan secara daring atau cyberstalking. Ketiga, terus memutar ulang kenangan masa lalu pasangan di kepala dan membandingkannya dengan sekarang.

Tindakan ini awalnya dilakukan untuk mengurangi rasa cemas. Namun, sering kali menjadi bumerang yang memperparah luka emosional dan kekhawatiran.

📰 Update Terbaru