Cadangan devisa Indonesia kembali tergerus pada Mei 2026, memperpanjang tren penurunan selama lima bulan berturut-turut.
Posisi cadangan devisa akhir Mei tercatat US$144,9 miliar, turun US$1,3 miliar dibandingkan April yang sebesar US$146,2 miliar.
>>> Panduan Memilih Strategi Trading bagi Pemula dari Broker Elev8
Penurunan ini mencerminkan besarnya intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menopang nilai tukar rupiah.
Secara kumulatif, total penurunan cadangan devisa sejak awal tahun hingga Mei mencapai US$11,57 miliar.
Meski menurun, posisi devisa saat ini dinilai masih kuat.
Cadangan US$144,9 miliar setara dengan 5,7 bulan impor, di atas standar kecukupan internasional untuk kewajiban utang luar negeri jangka pendek.
Tekanan Eksternal dan Pelemahan Rupiah
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada laju penurunan cadangan devisa. Penyusutan konsisten selama lima bulan memicu pertanyaan tentang kemampuan BI melanjutkan intervensi jika tekanan eksternal berlanjut.
Tekanan terhadap rupiah semakin berat akibat penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia karena ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
>>> 11 Kalimat Toxic Orang Tua Zaman Dulu yang Diam-Diam Melukai Mental Anak
Rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000/US$ untuk pertama kalinya, melemah 8,14% secara year-to-date, menjadi mata uang berkinerja terburuk di Asia.
Arus modal asing keluar turut menekan pasar domestik.
Investor global telah menarik dana lebih dari US$3,5 miliar dari pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini, sementara indeks saham Jakarta terkoreksi lebih dari 30%.
BI meningkatkan intervensi pada kuartal kedua dengan menambah kepemilikan obligasi pemerintah, kini mencapai sekitar 27% dari total obligasi pemerintah.
Surplus Perdagangan Menyusut
Surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut signifikan pada kuartal yang sama.
>>> Daftar Harga Gift TikTok Terbaru Juni 2026 dan Panduan Cara Belinya
April 2026 mencatat surplus hanya US$0,09 miliar, turun dari US$0,2 miliar pada periode sama tahun lalu dan jauh di bawah ekspektasi pasar US$1,5 miliar.
Ini adalah surplus terkecil sejak defisit perdagangan saat awal pandemi April 2020.
Meski ekspor tumbuh 21,98% secara tahunan pada April, impor melonjak lebih tinggi 22,49%, terutama impor migas yang naik 85,52% karena tingginya kebutuhan energi domestik.
Impor nonmigas juga naik 14,11% karena pelaku usaha mengamankan bahan baku lebih awal sebelum pelemahan rupiah membengkakkan biaya impor.
Samuel Sekuritas memproyeksikan Indonesia masih berpotensi surplus perdagangan sepanjang 2026, namun nominalnya lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.
BI dan pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi untuk memulihkan minat investor asing.
>>> Google Luncurkan Gemini Go, Asisten AI untuk HP Android Kelas Bawah
Langkah taktis meliputi menaikkan imbal hasil simpanan dana pemerintah di bank sentral dan merangsang arus modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.