⌂ Beranda News Suku Bunga AS Picu Kejatuhan IHSG ke Level 5.371

Suku Bunga AS Picu Kejatuhan IHSG ke Level 5.371

Suku Bunga AS Picu Kejatuhan IHSG ke Level 5.371
Grafik IHSG melemah
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 3,99 persen ke level 5.371,78 pada perdagangan Senin (8/6/2026) pukul 09.15 WIB.

Kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga tambahan oleh bank sentral Amerika Serikat menjadi pemicu utama.

>>> AS Proyeksikan Tarif Final Produk Indonesia Capai 18 Persen

Pada pembukaan, IHSG langsung merosot 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31. Indeks kemudian terus tertekan hingga kehilangan 222,29 poin.

Data Tenaga Kerja AS dan Sikap Hawkish The Fed

Tekanan di pasar saham global diperkuat oleh rilis data Nonfarm Payrolls AS bulan Mei 2026. Jumlah pekerjaan bertambah 172.000, jauh melampaui prediksi awal sebesar 85.000.

Tingkat pengangguran tetap di angka 4,3 persen.

Kinerja ekonomi yang solid memicu proyeksi inflasi akan menetap lebih lama. Hal ini mengubah arah ekspektasi kebijakan moneter.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyatakan, hal itu membuat Chairman The Fed Kevin Warsh berpotensi mengambil sikap yang lebih hawkish.

>>> SCG Chemicals Kurangi Saham TPIA Jadi 15,71 Persen

Liza menambahkan, perhatian pasar dunia sepanjang pekan ini juga tertuju pada konflik Timur Tengah.

Serangan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David dan dinamika Selat Hormuz menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga.

Sentimen internasional lainnya datang dari rencana kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Pyongyang pada 8-9 Juni 2026.

Selain itu, perhelatan Piala Dunia FIFA 2026 yang dimulai 11 Juni 2026 diproyeksikan dapat mendongkrak perputaran uang di sektor hospitality, transportasi, dan media di Amerika Utara.

>>> IHSG Ambles ke Level 5.371 akibat Sentimen Suku Bunga AS

Untuk meredam guncangan eksternal, Bank Indonesia bersama pemerintah pada Sabtu (6/6) menyatakan komitmen mendongkrak daya tarik aset keuangan domestik.

Instrumen SBN dan SRBI diharapkan mengembalikan aliran modal asing dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Bursa saham global dan regional Asia juga tertekan.

Dow Jones melemah 1,35 persen, S&P 500 turun 2,64 persen, dan Nasdaq anjlok 4,77 persen pada Jumat (5/6).

Senin pagi, Nikkei memimpin pelemahan di Asia dengan turun 3,94 persen, diikuti Strait Times 1,44 persen, Hang Seng 1,26 persen, dan Shanghai 1,00 persen.

>>> DPRD Surabaya Minta Dispendik Siapkan Server SPMB 2026/2027

Kiwoom Research menyarankan investor untuk memperbanyak wait and see sebelum mengambil posisi beli atau average down.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru