Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 45 poin atau 0,73 persen ke level 6.127 pada penutupan sesi I perdagangan Jumat, 19 Juni 2026.
Pelemahan indeks saham domestik tersebut terjadi seiring tren negatif pasar keuangan Asia menjelang akhir pekan.
>>> Lecce Rombak Lini Depan Jelang Kompetisi Serie A
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengonfirmasi bahwa pergerakan negatif ini dipengaruhi oleh pelonggaran ketegangan geopolitik setelah adanya kesepakatan damai tentatif antara Amerika Serikat dan Iran.
Kesepakatan tersebut ikut menurunkan harga minyak dunia.
>>> Polri Wajibkan Pengajuan SKCK Secara Online Lewat Aplikasi Super Apps Presisi
Selain itu, kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat masih membebani psikologis pasar keuangan saat ini.
“Sinyal hawkish The Fed meningkatkan ekspektasi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun, meski bank sentral AS sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (19/6/2026).
Ekspektasi pengetatan moneter tersebut didukung oleh proyeksi internal yang menunjukkan sembilan dari 19 pejabat FOMC masih melihat perlunya kenaikan suku bunga demi meredam gejolak inflasi global.
>>> Kemenag Rilis Jadwal Sholat Jawa Timur 19 Juni 2026, Cek Waktunya
Faktor Domestik Ikut Memberatkan
Selain faktor global, hambatan pertumbuhan indeks dalam negeri turut dipicu oleh penilaian MSCI yang menurunkan skor transparansi aliran informasi pada pasar modal Indonesia.
“Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan persepsi risiko di mata investor global,” papar Pilarmas.
>>> MoraRepublic Optimistis Pasar Internet Rumah Indonesia Masih Sangat Luas
Pada penutupan sesi pertama, beberapa saham seperti BCIC, ZONE, dan CITY mencatatkan kenaikan tertinggi. Sementara itu, saham SRAJ, JECC, dan BNLI masuk dalam jajaran yang paling melemah.
