Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia melemah hingga 3,99 persen ke posisi 5.371,78 pada Senin (8/6/2026) pukul 09.15 WIB.
Pergerakan indeks domestik dibuka merosot 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31.
>>> Pelanggan IndiHome Telkomsel Tembus 10,3 Juta pada Kuartal I/2026
Penurunan berlanjut dipicu kecemasan pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin, menyarankan pelaku pasar untuk wait and see sebelum mengambil posisi beli atau average down.
Data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls AS bulan Mei yang bertambah 172.000 pekerjaan memicu potensi pengetatan moneter yang lebih agresif.
Hal ini membuat Chairman The Fed Kevin Warsh berpotensi mengambil sikap hawkish di luar ekspektasi pasar.
>>> BGN Tuntaskan Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah untuk Program MBG
Tekanan geopolitik menyusul serangan rudal ke pangkalan udara Ramat David serta pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 turut memengaruhi pergerakan modal internasional di kawasan Asia.
Liza menambahkan, perkembangan terkait Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga.
Kemerosotan pasar ini melanjutkan tren negatif sejak Jumat (5/6/2026) saat IHSG anjlok 4,20 persen ke level 5.595.
Aksi jual bersih investor asing mencapai Rp3,7 triliun di seluruh pasar Bursa Efek Indonesia.
>>> Cadangan Devisa BI Mei 2026 Turun Tipis Jadi US$ 144,9 Miliar
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama pelepasan portofolio oleh pemodal internasional.
Nilai penjualan bersih mencapai Rp2,28 triliun sepanjang periode 2 hingga 5 Juni 2026.
Riset Ciptadana Sekuritas Asia memproyeksikan indeks bergerak dalam rentang support 5.381 dan resistance 5.733. Mereka menyarankan opsi beli saat melemah untuk trading jangka pendek.
Beberapa sekuritas menilai koreksi tajam ini membuka peluang akumulasi pada saham yang mulai memasuki area jenuh jual.
>>> Aturan Pajak Minimum Global Kurangi Efektivitas Insentif Smelter Nikel
Rekomendasi Saham 8 Juni 2026
- BTPS: Buy on Weakness, Entry 800, Target 875, Stop Loss 770
- BUKA: Buy on Weakness, Entry 107, Target 116, Stop Loss 97
- HEAL: Buy on Weakness, Entry 765, Target 845, Stop Loss 700
- TPIA: Buy on Weakness, Entry 1.205, Target 1.375, Stop Loss 1.100
Bank Indonesia bersama pemerintah mengonfirmasi penyerapan likuiditas akan difokuskan pada penguatan daya tarik instrumen domestik seperti SBN dan SRBI demi mengamankan stabilitas nilai tukar Rupiah.