Sekitar 150 ahli matematika menandatangani deklarasi bersama yang memperingatkan pemerintah untuk tidak mempercayai sensasi terkait kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam memecahkan masalah matematika kompleks.
Deklarasi ini muncul setelah OpenAI mengklaim bahwa teknologi AI mereka berhasil memecahkan konjektur jarak satuan berusia 80 tahun karya matematikawan Paul Erdos secara otonom.
>>> IHSG Anjlok 35,52 Persen ke 5.594 Poin, Investor Asing Keluar Besar-besaran
Sebelumnya, seorang pemuda berusia 23 tahun tanpa pelatihan matematika mengaku menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan soal matematika menantang lainnya dari Erdos pada awal tahun ini.
Deklarasi Leiden tentang AI dan Matematika
Pernyataan bersama ini diterbitkan dalam dokumen setebal 11 halaman berjudul "Deklarasi Leiden tentang AI dan Matematika" untuk menyikapi perdebatan mengenai keandalan model AI.
Wakil Presiden International Mathematical Union, Ulrike Tillmann, menekankan bahwa kehadiran teknologi AI membawa dampak serta berbagai pertanyaan besar bagi masa depan dunia penelitian yang memerlukan kajian mendalam.
"Masa depan penelitian matematika harus dipandu penilaian manusia, praktik adil dan transparan, serta nilai-nilai bersama dari komunitas matematika global," ujar Tillmann.
Para ahli menilai bahwa dorongan komersial dari industri teknologi menjadi salah satu pemicu utama munculnya klaim-klaim yang berlebihan mengenai kemampuan produk AI.
>>> Kebijakan Pengadaan Migas BUMN Tanpa Tender Dinilai Berisiko Moral Hazard
"Saat ini terdapat insentif komersial kuat di pihak industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka," bunyi deklarasi tersebut.
Para pembuat kebijakan disarankan untuk selalu melibatkan dan berkonsultasi dengan para pakar, termasuk ahli matematika, sebelum mengambil keputusan terkait regulasi teknologi tersebut.
Kekhawatiran lain muncul dari potensi model AI yang dapat memproduksi jawaban atau solusi yang terlihat meyakinkan, namun sebenarnya keliru secara substansi penelitian.
"Teknik otomatisasi saat ini dapat menghasilkan argumen yang terdengar masuk akal namun tak dapat diandalkan (atau bahkan salah) yang sulit dibedakan dari pembuktian matematika yang benar," kata Kepala Ilmu Komputer Universitas Oxford, Leslie Ann Goldberg.
>>> Rupiah Ambles ke Rp 18.115 per Dolar AS pada 8 Juni 2026
Selain masalah keandalan, deklarasi tersebut menyoroti posisi rentan para akademisi yang kerap terpaksa mendukung teknologi AI demi mendapatkan pendanaan riset yang semakin sulit diperoleh.
Dokumen itu juga mendesak adanya regulasi yang lebih luas karena keterlibatan industri AI dalam sektor militer, pengawasan massal, penyebaran misinformasi yang merusak demokrasi, hingga dampak kerusakan lingkungan.
Persoalan hak cipta turut menjadi sorotan tajam karena model AI dilatih menggunakan data karya ilmiah tanpa mendapatkan persetujuan dari penulis aslinya.
"Matematikawan yang tak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI mendapati karya mereka digunakan untuk tujuan ini tanpa persetujuan.
Saya pikir itu adalah situasi yang sangat mengkhawatirkan," kata antropolog AI Universitas Leiden, Rodrigo Ochigame.
>>> Telkom Perkuat Pendapatan Non Ritel Lewat Sektor B2B dan Internasional
Hingga saat ini, perdebatan mengenai kemampuan model AI dalam memecahkan masalah terbuka yang menjadi pusat di bidang matematika masih terus berlangsung di kalangan akademisi global.