⌂ Beranda News IHSG Anjlok 35,52 Persen ke 5.594 Poin, Investor Asing Keluar Besar-besaran

IHSG Anjlok 35,52 Persen ke 5.594 Poin, Investor Asing Keluar Besar-besaran

IHSG Anjlok 35,52 Persen ke 5.594 Poin, Investor Asing Keluar Besar-besaran
Grafik IHSG anjlok 35,52 persen ke 5.594 poin
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam hingga 35,52 persen secara year-to-date (YTD) ke level 5.594,77 poin.

Penurunan ini dipicu oleh aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia akibat kekhawatiran kondisi ekonomi global.

>>> Rupiah Ambles ke Rp 18.115 per Dolar AS pada 8 Juni 2026

Dalam satu hari perdagangan, indeks domestik kehilangan 245,02 poin atau setara 4,20 persen.

Koreksi besar melanda saham-saham unggulan dalam MSCI Indonesia Index seiring perpindahan modal internasional ke aset aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Strategi Investor di Tengah Tekanan Pasar

Menanggapi situasi ini, manajer investasi mulai mengalihkan fokus portofolio pada sektor yang dinilai lebih defensif.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menyebutkan sektor komoditas masih bisa menjadi pilihan.

Untuk reksa dana, Panin AM memiliki reksa dana dolar baik di deposito dolar maupun obligasi dolar dan pasar global di AS.

>>> Telkom Perkuat Pendapatan Non Ritel Lewat Sektor B2B dan Internasional

Di sisi lain, penurunan tajam nilai indeks saham dipandang sebagai kesempatan bagi investor domestik untuk menyerap saham berkapitalisasi besar yang harganya sudah di bawah nilai pasar wajar.

"Bagi investor domestik, kondisi koreksi tajam IHSG sebenarnya menyediakan ruang valuasi yang sangat murah (undervalued)," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.

Namun, strategi yang paling bijak saat ini adalah gradual accumulation dengan pendekatan defensif-selektif, bukan langsung agresif masuk (all-in).

Menurut analisis teknikal, pasar saham dalam negeri saat ini sedang dalam fase pencarian titik terendah.

Investor disarankan tidak gegabah mengambil keputusan investasi yang terlalu berisiko tinggi saat fluktuasi nilai tukar rupiah masih belum stabil.

"Pasar saat ini masih dalam fase mencari landasan (bottoming-out process).

>>> Gempa Magnitudo 7,7 Filipina Picu Peringatan Tsunami di Indonesia

Masuk secara agresif saat volatilitas rupiah masih tinggi dan asing masih mencatatkan net sell harian yang besar sangat berisiko (catching a falling knife)," ujar Nafan.

Pembelian saham secara bertahap saat harga melemah atau buy on weakness menjadi langkah taktis yang dianjurkan untuk meminimalkan risiko kerugian besar.

Fokus pemilihan aset sebaiknya diarahkan pada saham emiten besar yang performa penjualannya sudah jenuh jual.

"Lakukan pembelian secara bertahap (buy on weakness) pada saham-saham berkapitalisasi besar yang harganya sudah jenuh jual (oversold), terutama ketika indikator teknikal menunjukkan pembalikan arah jangka pendek," tutur Nafan.

Penurunan indeks sebesar 35,52 persen ini dipengaruhi kombinasi kebijakan suku bunga tinggi global serta perlambatan aktivitas ekonomi domestik.

>>> Majelis Etik Ombudsman Bacakan Rekomendasi Kasus Korupsi Ketua Nonaktif

Pengelolaan risiko dan menjaga kekuatan arus kas menjadi penentu keberhasilan dunia usaha dalam menghadapi fase koreksi pasar ini.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru