⌂ Beranda News Pasar Gas Global Soroti Dampak Cuaca Asia dan Permintaan LNG China

Pasar Gas Global Soroti Dampak Cuaca Asia dan Permintaan LNG China

Pasar Gas Global Soroti Dampak Cuaca Asia dan Permintaan LNG China
Ilustrasi pasar gas global dengan latar peta Asia dan simbol LNG
A A Ukuran Teks16px

Pasar gas global kini tengah mencermati pergerakan suhu udara di Asia dan dinamika permintaan dari China di tengah penutupan Selat Hormuz yang telah berlangsung hampir tiga bulan.

Para pedagang mengantisipasi lonjakan konsumsi energi akibat cuaca panas ekstrem. Prakiraan cuaca musim panas mengindikasikan lonjakan suhu di atas rata-rata normal di seluruh kawasan Asia.

>>> Klive Beach Club dan Happiness Foundation Gelar Kegiatan Sosial untuk Anak-Anak di Bali

Fenomena El Niño diproyeksikan memperparah kondisi tersebut. Hal ini berpotensi meningkatkan penggunaan pendingin udara secara masif dan memberi beban tambahan pada jaringan listrik regional.

Dampak penutupan Selat Hormuz sejauh ini belum memicu lonjakan harga yang ekstrem seperti krisis energi terdahulu. Penyebabnya adalah lemahnya impor China pada Maret dan April.

Namun, tanda-tanda pemulihan pembelian dari negara importir LNG terbesar di dunia tersebut dapat memperketat persaingan global.

"Dampak penuh dari penutupan Selat Hormuz belum terasa karena kita masih berada pada periode transisi dengan permintaan yang relatif rendah," kata Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee.

"Harga LNG dapat naik hingga 50% lagi sampai Agustus jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup," ujarnya.

Arus pengiriman LNG kini dilaporkan mulai beralih menuju Asia akibat kesediaan pembeli di kawasan tersebut untuk membayar harga yang lebih tinggi.

>>> Mandy Moore Produksi Serial Drama tentang Program Bayi Tabung

Sebaliknya, volume pengiriman LNG ke Eropa mengalami penurunan lebih dari 10% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Para ahli meteorologi memperkirakan fenomena El Niño muncul sepanjang periode Juni hingga Agustus.

Di wilayah Asia Timur, suhu rata-rata di Jepang diperkirakan melonjak 1,5 derajat Celsius di atas normal.

Korea Selatan dan China akan mengalami kenaikan sekitar 0,5 hingga 1 derajat Celsius.

Faktor penentu lain di pasar China adalah volume produksi listrik tenaga air pada musim panas ini.

Jika curah hujan di wilayah selatan dan timur China memadai, kebutuhan terhadap pasokan gas dapat ditekan meskipun wilayah utara berisiko menghadapi kekeringan.

"Permintaan China kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring faktor musiman," kata Maggie Xueting Lin, ahli strategi riset energi di Citigroup Inc. "Permintaan dari sektor industri masih cukup lemah akibat lesunya sektor properti," ujarnya.

>>> Tiga Operator Telekomunikasi Pacu Lonjakan BTS 5G Signifikan

Di sisi lain, Jepang yang merupakan pembeli LNG terbesar kedua di dunia diperkirakan menghadapi musim panas yang sangat terik.

Lonjakan pembelian dari Jepang dinilai sejumlah trader dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap fluktuasi pasar global dibandingkan dengan pergerakan dari China.

Sementara itu, benua Eropa berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Tingkat produksi listrik tenaga air di Swiss berada di level rendah akibat penurunan volume air sungai.

Situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas operasional pembangkit listrik tenaga nuklir setempat.

"Pasar gas di Eropa sedang ketat," kata Helle Ostergaard Kristiansen, wakil presiden senior untuk gas dan listrik di Equinor ASA.

"Secara sederhana, pasokan gas fisik tidak mencukupi dan mengisi penyimpanan gas hingga tingkat yang memadai untuk musim dingin mendatang merupakan tantangan.

>>> Pemerintah Salurkan Rp 203,7 Triliun untuk Subsidi dan Kompensasi per Mei 2026

Dan setiap hari konflik ini berlanjut, situasinya menjadi semakin kritis," pungkasnya.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru