Seorang ibu dua anak di Inggris, Gini Harrison, didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium empat setelah awalnya mengira rasa sakit di bahunya hanya cedera otot biasa.
Harrison yang berprofesi sebagai profesor psikologi di Open University ini mengalami nyeri bahu yang semakin parah setelah melahirkan putranya pada akhir Februari 2021.
>>> OJK Catat Piutang Multifinance April 2026 Tumbuh 2,08 Persen
Dokter umum awalnya menduga gangguan tersebut merupakan masalah muskuloskeletal akibat posisi menyusui yang buruk.
Akibat janji temu medis via telepon selama pandemi COVID-19, Harrison tidak bertemu langsung dengan dokter selama sembilan bulan.
Ia akhirnya menjalani pemindaian MRI di Klinik Saxon pada Oktober 2021.
Hasil MRI menunjukkan adanya tumor di paru-paru kanan atas dan tulang belikatnya.
Tumor tersebut telah menyebar menjadi kanker stadium empat sebelum Natal tahun tersebut.
"Satu-satunya gejala yang saya alami adalah nyeri bahu yang semakin parah dan tidak kunjung hilang," kata Harrison.
Pihak medis kemudian mengungkapkan bahwa Harrison menderita kanker paru-paru non-sel kecil EGFR Exon 20 yang dipicu oleh mutasi genetik langka.
"Ketika tidak kunjung membaik, mereka mengatakan mungkin karena saya tidak bisa mengistirahatkan tubuh saya sebagai seorang ibu dengan bayi yang selalu saya gendong," ungkap Harrison.
Reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR) merupakan protein untuk pertumbuhan sel, tetapi mutasi genetik dapat membuat sel tumbuh tidak terkendali.
Mutasi EGFR ini mencakup 10-15 persen kasus kanker paru-paru di Inggris dan lebih sering menyerang perempuan non-perokok.
Harrison mengaku sangat terkejut karena mengira risiko kanker paru-paru bagi dirinya sangat rendah mengingat ia bukan seorang perokok.
>>> Tiga Bintang Argentina Absen Lawan Honduras karena Masalah Fisik
"Saya belum pernah mendengar tentang kanker paru-paru non-perokok sebelum diagnosis saya. Saya selalu mengaitkan kanker paru-paru dengan merokok," katanya.
Data Cancer Research UK menunjukkan 14 persen penderita kanker paru-paru di Inggris tidak pernah merokok.
Sementara data Ruth Strauss Foundation mencatat sekitar 7.000 dari 50.000 kasus tahunan menyerang non-perokok akibat polusi udara, asap masakan, radon, hingga mutasi genetik.
Selain menghadapi penyakitnya sendiri, Harrison juga sempat merasa takut untuk memberitahukan kondisi kesehatannya kepada kedua anaknya.
"Anak laki-laki saya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi, tetapi anak perempuan saya berusia lima tahun saat saya didiagnosis, jadi kami memutuskan untuk sejujur mungkin dengannya," beber Harrison.
Ia memilih memberikan informasi secara bertahap mengenai kondisinya kepada sang anak.
"Kami memberinya informasi sedikit demi sedikit tentang fakta bahwa saya tidak begitu sehat dan harus melakukan banyak tes.
Kami memberi tahu dia bahwa saya akan dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi dan itu mungkin membuat saya sakit," kata Harrison.
