Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberlakukan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Provinsi Sumatera Utara selama satu pekan ke depan, mulai Sabtu, 6 Juni 2026.
Langkah ini diambil karena adanya pembangunan Tower Emergency setelah belasan tower transmisi roboh akibat cuaca ekstrem.
>>> Elnusa Petrofin Perluas Hutan Petrofin dengan 2.250 Pohon Baru
Manajemen beban dilakukan secara terukur di beberapa titik untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Sergai, dan Langkat.
"Pola pengaturan pasokan listrik dilakukan secara bergantian dan berpotensi terjadi 1-2 kali dalam sehari," ungkap Manager Komunikasi Unit Induk Distribusi Sumatera Utara Darma Saputra, Sabtu (6/6/2026).
Gangguan transmisi pada jalur SUTET 275 kV dipicu oleh hujan lebat dan angin kencang yang terjadi pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 20.03 WIB.
PLN kini mengupayakan percepatan normalisasi jaringan.
"Adapun durasi pemadaman listrik akan berlangsung 3-4 jam setiap periode. Hal ini dilakukan dalam penyesuaian kondisi sistem kelistrikan," lanjut Darma Saputra.
Proses Pemulihan dan Target
Pihak manajemen PLN Unit Induk Pusat Penyaluran dan Pengatur Beban Sumatera menargetkan pendirian infrastruktur darurat ini rampung pada pertengahan Juni 2026.
Proses pengerjaan di lapangan sangat bergantung pada situasi cuaca.
"Seluruh personel bekerja secara maksimal selama 24 jam dengan mengedepankan keselamatan dan kualitas pekerjaan.
Kami optimistis pendirian Tower Emergency dapat diselesaikan sesuai target sehingga proses normalisasi sistem kelistrikan dapat berjalan lebih cepat dan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat segera pulih sepenuhnya," jelas Senior Manager Keuangan Komunikasi dan Umum PLN Unit Induk Pusat Penyaluran dan Pengatur Beban Sumatera Yenti Elfina.
Operasional penyeimbangan beban tetap dilakukan demi mencegah kerusakan sistem kelistrikan yang lebih luas.
>>> Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Permohonan Yudisial Paulus Tannos
PLN menyampaikan permohonan maaf atas hambatan aktivitas yang dialami warga.
"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat selama proses pemulihan berlangsung.
Saat ini manajemen beban masih dilakukan secara terukur di beberapa wilayah untuk menjaga keandalan sistem," ucap Yenti Elfina.
Kondisi pemadaman berulang ini memicu gelombang kritik dari lembaga konsumen di Sumatera Utara.
Masyarakat mempertanyakan efektivitas pemulihan pasca insiden blackout massal regional yang sempat terjadi sebelumnya.
"Fakta bahwa pemadaman masih terus terjadi memperlihatkan masih adanya persoalan yang perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik," kata Ketua Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Sumut Padian Adi S Siregar, Sabtu (6/6/2026).
LAPK Sumut menilai pemadaman yang dilakukan pada malam hari sangat merugikan bagi masyarakat luas.
"Pemadaman malam hari justru menimbulkan gangguan yang lebih besar terhadap keamanan, kenyamanan, dan aktivitas masyarakat," tambahnya.
Padian menegaskan bahwa pelanggan yang telah memenuhi kewajiban berhak atas keterbukaan informasi.