⌂ Beranda News Tencent Rekrut Mantan Peneliti OpenAI untuk Pimpin Pengembangan AGI

Tencent Rekrut Mantan Peneliti OpenAI untuk Pimpin Pengembangan AGI

Tencent Rekrut Mantan Peneliti OpenAI untuk Pimpin Pengembangan AGI
Tencent rekrut mantan peneliti OpenAI untuk kembangkan AGI
A A Ukuran Teks16px

Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru. Mantan peneliti OpenAI resmi ditunjuk sebagai Kepala Ilmuwan AI di Tencent.

Langkah strategis ini diambil untuk memuluskan ambisi raksasa teknologi China tersebut dalam membangun kecerdasan buatan umum atau artificial general intelligence (AGI).

>>> Iran Luncurkan Tujuh Rudal Balistik ke Bahrain dan Kuwait

Teknologi AGI yang memiliki kemampuan setara atau melampaui kecerdasan manusia selama ini menjadi target utama korporasi AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Alphabet.

Perusahaan-perusahaan asal China sebelumnya cenderung lebih fokus pada aplikasi praktis di sektor manufaktur dan elektronik konsumen akibat pembatasan ekspor chip dari AS.

Visi perusahaan China kini mulai bergeser seiring keberhasilan mereka merekrut talenta digital dari Silicon Valley.

CEO Baidu Robin Li sempat memprediksi AGI baru bisa terealisasi setidaknya pada tahun 2034. Target ini sangat kontras dengan target Elon Musk yang membidik tahun 2026.

Perekrutan Yao Shunyu oleh Tencent menjadi salah satu bukti nyata perpindahan keahlian global. Yao bergabung dengan Tencent setelah meninggalkan posisi risetnya di OpenAI tahun lalu.

>>> Militer AS Serang Instalasi Radar Pantai Iran di Pulau Qeshm

"Tujuan pribadi saya adalah kita harus membangun sebuah organisasi AGI jangka panjang di China," ungkap Kepala Ilmuwan AI Tencent, Yao Shunyu.

Rencana masa depan AI tersebut dibahas Yao bersama eksekutif Tencent Cloud, Dowson Tong, dalam sebuah forum korporat di Beijing yang turut dihadiri pejabat senior pemerintah setempat.

Yao menilai pasar aplikasi super berbasis AI masih sangat luas dan menyimpan potensi bisnis yang belum tergarap optimal.

"Saya rasa ChatGPT atau Claude takkan jadi satu-satunya super-app," ujar Yao.

Menurut Yao, strategi China ke depan akan lebih menitikberatkan pada pengembangan model AI berukuran lebih kecil namun memiliki konsistensi tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas fundamental.

>>> Menkeu Purbaya Instruksikan Bea Cukai Urai Penumpukan 3.100 Kontainer di Tanjung Priok

Sudut pandang optimistis dari Asia ini berkembang di tengah meningkatnya sikap kehati-hatian para pelaku industri AI di Amerika Serikat.

Anthropic telah memberikan peringatan mengenai risiko model AI mutakhir yang mulai mampu berkembang sendiri tanpa pengawasan manusia. Mereka mengusulkan moratorium pengembangan sementara.

Selain faktor investasi besar dari pemerintah China untuk riset lima tahun ke depan, ketidakpastian kebijakan imigrasi AS turut mendorong peneliti asal China pulang dan berkarier di tanah air.

Fenomena perebutan talenta ini juga melibatkan raksasa teknologi lain seperti Alibaba yang merekrut Hao Zhou, mantan peneliti Google DeepMind, untuk memperkuat proyek AI Qwen.

Divisi penelitian ByteDance Seed kini dipimpin oleh Wu Yonghui yang meninggalkan jabatannya sebagai Wakil Presiden Penelitian di Google DeepMind California pada Februari 2025.

>>> Dokter Tirta Sindir Pelemahan Rupiah dengan Candaan Jarak Lari

Tren serupa melahirkan startup Moonshot, pengembang model Kimi AI, yang didirikan oleh Yang Zhilin, mantan personil Meta AI dan Google Brain.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru