Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat bahwa mengganti gula pasir dengan gula aren bukan solusi utama untuk menekan risiko gangguan kesehatan akibat konsumsi pemanis berlebih.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi di Jakarta pada Jumat (5/6/2026).
>>> Ketidakpastian Global: Kelompok Rentan Paling Terdampak
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, M. Epid.
, menjelaskan bahwa tren penggunaan gula aren pada minuman kekinian tidak memberikan perbedaan signifikan bagi tubuh.
"Sekarang kan suka ada tren ya, mengganti gula pasir menjadi gula aren. Nah itu sebenarnya tidak ada bedanya," ujar dr Nadia.
Perubahan zat dari kedua jenis pemanis hanya terletak pada durasi pengolahannya di sistem pencernaan.
>>> Banyak Game Besar Hindari November 2026 demi Jauhi GTA 6
Kemenkes tetap menekankan pentingnya pembatasan takaran konsumsi harian.
"Sama. Cuma memang metabolitnya lebih lambat.
Yang penting itu kurangi gula, bukan mengganti gula," lanjut dr Nadia.
Edukasi Melalui Label Nutri-Level
Pemerintah kini menggencarkan edukasi mengenai kadar gula, garam, dan lemak lewat sistem penandaan warna nutri-level pada kemasan makanan atau minuman.
>>> Menkeu Purbaya Tanggapi Kenaikan Bunga Penempatan Dana Pemerintah di BI
Langkah ini bertujuan agar masyarakat lebih mandiri dalam mengontrol asupan nutrisi.
Melalui kode warna seperti label merah, konsumen diharapkan dapat membatasi frekuensi konsumsi produk yang mengandung gula tinggi.
"Kalau hari ini minum merah, nanti sore atau malam jangan lagi. Cukup satu kali atau dua minggu sekali atau sebulan sekali," kata dr Nadia.
Penumpukan kadar gula yang tidak terkendali menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya kasus penyakit tidak menular di Indonesia.
>>> Komunitas Free Fire Wajib Waspada Bahaya Penawaran Akun Gratis
Beberapa penyakit yang terus meningkat kasusnya meliputi stroke, gangguan jantung, perlemakan hati, hingga kerusakan ginjal.