⌂ Beranda News Ilmuwan Temukan Mikroplastik di Rahim hingga Janin, Ini Dampaknya

Ilmuwan Temukan Mikroplastik di Rahim hingga Janin, Ini Dampaknya

Ilmuwan Temukan Mikroplastik di Rahim hingga Janin, Ini Dampaknya
Ilustrasi partikel mikroplastik di sekitar janin dalam rahim
A A Ukuran Teks16px

Para peneliti menemukan mikroplastik di dalam rahim perempuan hingga bayi yang belum lahir. Temuan ini menambah kekhawatiran tentang dampak partikel plastik terhadap kesehatan manusia.

United Nations Environment Programme (UNEP) mendefinisikan mikroplastik sebagai fragmen plastik berukuran 1 nanometer hingga 5 milimeter.

>>> Krisis Replikasi Ilmiah: Antara Fondasi Kebenaran dan Asumsi Akademik

Partikel ini mayoritas berasal dari pembungkus plastik, wadah makanan, pakaian poliester, ban, cat, dan rumput sintetis.

Proses memanaskan makanan dalam kemasan plastik menjadi sumber utama kekhawatiran.

Penggunaan oven microwave untuk menghangatkan makanan atau susu formula dalam botol plastik dapat melepaskan mikroplastik dan Bisphenol A (BPA) ke dalam konsumsi harian.

Selain kemasan makanan, benda plastik besar yang terurai menjadi serpihan mikroskopis juga dikonsumsi biota laut seperti ikan dan kerang.

Akhirnya, partikel ini sampai ke piring makan manusia.

Riset sebelumnya mendeteksi mikroplastik pada makanan laut, garam, air minum, dan hasil pertanian segar.

Studi dalam jurnal Environmental Science pada Agustus 2020 menunjukkan adanya 52.050 hingga 233.000 partikel plastik per jenis buah dan sayuran.

>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas 16 Juni 2026 Stabil

Sementara itu, laporan jurnal Environmental Research mencatat hampir 90 persen protein yang diuji terkontaminasi mikroplastik.

Masyarakat diperkirakan menelan ribuan partikel plastik setiap tahun lewat makanan dan minuman. Partikel ini juga berisiko terhirup melalui udara di rumah, tempat kerja, dan lingkungan perkotaan.

Dampak Mikroplastik pada Plasenta dan Janin

Paparan mikroplastik dikaitkan dengan risiko peradangan, gangguan hormonal, masalah reproduksi, dan potensi gangguan kardiovaskular. Seruan investigasi meningkat setelah zat ini ditemukan pada darah, paru-paru, plasenta, dan janin.

Jurnal Cureus tahun 2024 mengonfirmasi keberadaan mikroplastik berukuran 2,1 hingga 100 mikrometer pada plasenta dan tubuh janin.

Hasil penelitian menunjukkan hubungan erat antara gaya hidup dengan kadar mikroplastik di plasenta.

Tingginya kadar mikroplastik berkaitan dengan penurunan keanekaragaman mikrobioma, rendahnya berat badan lahir bayi, gangguan usia kehamilan, dan masalah pertumbuhan janin.

>>> Investor Disarankan Menunda Pembelian Emas secara Agresif saat Koreksi

Ulasan dalam jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety tahun 2025 memaparkan bahwa paparan pada plasenta berhubungan dengan perubahan kadar hormon janin yang mengindikasikan risiko gangguan endokrin.

Langkah Menghindari Paparan Selama Kehamilan

Risiko gangguan kesehatan selama kehamilan dapat ditekan dengan menghindari paparan mikroplastik sejak dini. Berdasarkan rekomendasi Harvard Chan School, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan ibu hamil.

Pertama, batasi penggunaan plastik pada makanan. Beralihlah ke botol dan wadah berbahan kaca atau baja tahan karat.

Hindari memanaskan makanan di microwave menggunakan wadah plastik, dan prioritaskan wadah keramik atau kaca.

Kedua, selektif memilih produk perawatan. Periksa label kandungan kosmetik dan produk perawatan pribadi.

Pilih merek yang tidak menambahkan mikroplastik dalam produk mereka.

Ketiga, perhatikan bahan dan pencucian pakaian. Cuci pakaian sintetis lebih jarang dengan suhu air dingin.

>>> 10 Profesi yang Tidak Bisa Digantikan Kecerdasan Buatan

Jika memungkinkan, prioritaskan pakaian dari serat alami seperti katun, linen, atau wol.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru