Pasukan Amerika Serikat berhasil menangkis serangan rudal balistik dan drone Iran di kawasan Teluk Persia pada Jumat malam, 5 Juni 2026.
Komando Pusat AS (CentCom) mengonfirmasi bahwa enam rudal balistik yang diarahkan ke Bahrain dan Kuwait berhasil dicegat oleh sistem pertahanan.
>>> New York Knicks Kalahkan San Antonio Spurs 105-104, Unggul 2-0 di Final NBA
Satu rudal lainnya gagal mencapai target. Empat drone penyerang Iran yang menuju Selat Hormuz juga berhasil ditembak jatuh oleh militer AS.
Serangan Balasan ke Radar Iran
Menanggapi serangan tersebut, angkatan bersenjata AS meluncurkan serangan balasan ke situs radar pengawasan pantai milik Iran.
Fasilitas radar yang berlokasi di Goruk dan Pulau Qeshm dihancurkan untuk mencegah potensi serangan lanjutan di wilayah perairan strategis tersebut.
Militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udara nasional mereka bergerak aktif dalam menghalau serangan. Suara ledakan di udara dikonfirmasi sebagai aktivitas pencegatan sistem pertahanan terhadap armada musuh.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta warga untuk segera mencari lokasi aman.
Konflik yang bermula sejak 28 Februari 2026 ini berimbas pada penutupan sebagian besar Selat Hormuz. Data pelacakan kapal mencatat tidak ada lalu lintas komersial pada Jumat pagi.
Sebelumnya, hanya ada tiga kapal yang melintas dari masing-masing arah pada hari Kamis.
>>> Alasan Telur Omega-3 Lebih Mahal Dibanding Telur Biasa
Presiden Donald Trump memberikan penilaian mengenai kapasitas militer Iran saat ini di sela kunjungannya ke Wisconsin.
"Itu banyak rudal, tapi tidak seperti saat kami pertama kali menyerang," kata Trump.
Ia mengakui bahwa Iran masih memegang sekitar 21 hingga 22 persen dari total persenjataan rudal mereka.
Dalam kesempatan terpisah pada hari Jumat, Trump mengklaim telah meraih kesuksesan besar dan menyebut Iran tidak dalam posisi mampu memiliki senjata nuklir.
"Kami meraih kesuksesan besar dengan Iran," ujar Trump.
Trump juga menanggapi pergerakan pasar komoditas global akibat perang ini. Lonjakan harga bahan bakar bensin terjadi setelah AS dan Israel menggempur Iran pada akhir Februari lalu.
"Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk," tutur Trump. Ia menambahkan bahwa harga minyak saat ini berada di angka US$96 per barel.
Nilai tersebut dinilai lebih rendah dari kekhawatiran banyak pihak yang memprediksi harga minyak mentah dunia bisa melonjak hingga US$300 per barel.
>>> CEO TSMC Tanggapi Rencana Elon Musk Bangun Pabrik Terafab
"Hari ini saya melihat harga minyak US$96 per barel, orang-orang mengira harganya akan mencapai US$300 per barel," ucap Trump.
Di sisi lain, pihak Iran menetapkan syarat penyelesaian konflik dengan menuntut gencatan senjata di Lebanon.
Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran menyatakan kepastian kesepakatan kini berada di bawah kendali pemerintah AS, dibarengi tuntutan pencairan aset senilai $24 miliar.
"Bola ada di tangan Trump," tegas Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Sementara itu, jalur diplomasi tidak langsung masih terus berjalan antara kedua belah pihak melalui perantara. Menteri Luar Negeri Iran memberikan pemutakhiran mengenai status negosiasi yang sedang berlangsung.
"Kemajuan nyata," kata Abbas Araghchi.
Situasi di Lebanon sendiri masih memanas setelah Hizbullah menolak proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh Departemen Luar Negeri AS pada awal pekan.
>>> Ramalan Zodiak Libra, Scorpio, dan Sagitarius: Karier, Keuangan, dan Asmara
Kebuntuan diplomasi ini memicu kekhawatiran para pemimpin di kawasan Teluk akan potensi terseret ke dalam perang terbuka yang lebih luas.