Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan impor bijih nikel ke Indonesia akan mencapai 25 juta ton pada tahun 2026.
Angka ini melonjak signifikan dibandingkan realisasi impor tahun 2025 yang tercatat sebesar 15,33 juta ton.
>>> Innodisk Pamerkan Ekosistem Edge AI Komprehensif di Computex 2026
Proyeksi tersebut disampaikan Ketua FINI Arif Perdana Kusumah dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, pemangkasan kuota produksi dalam negeri menjadi pemicu utama lonjakan impor.
Kementerian ESDM menetapkan target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sebesar 260 juta hingga 270 juta ton.
Angka ini menurun dari target tahun lalu yang mencapai 320 juta ton.
Hingga Mei 2026, pasokan bijih nikel dari Filipina sudah mencapai 5 juta ton.
>>> Kemnaker dan Boga Group Buka Lowongan Server Restoran untuk Lansia
FINI sebelumnya memperkirakan impor dari Filipina bisa mencapai 30 juta ton tahun ini, namun penurunan utilisasi smelter pada semester pertama mempengaruhi penyerapan.
Arif menjelaskan bahwa kapasitas ekspor Filipina terbatas karena harus memenuhi kontrak dengan negara lain, seperti China. "Kapasitas mereka juga tidak terlalu besar," ujarnya.
Kebutuhan total bijih nikel dalam negeri diperkirakan mencapai 340 hingga 350 juta ton, seiring kapasitas fasilitas pemurnian yang mencapai 2,7 juta dry metric ton nikel kelas 1 dan 2.
FINI memperkirakan defisit pasokan sekitar 100 juta ton jika produksi lokal dibatasi 250 juta ton.
>>> Dirjen Bea Cukai Buka Suara Terkait Kasus Suap Blueray Cargo
Dirjen Mineral dan Batu Bara ESDM Tri Winarno mengonfirmasi batas produksi tahunan nikel sebesar 260 juta–270 juta ton.
Kebijakan ini didukung pengusaha tambang lokal untuk menjaga stabilitas harga komoditas di pasar internasional.
"Biar harga naik dong.
Kalau produksi terlalu over kan harga pasti turun," tegas Meidy, perwakilan pengusaha tambang, saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).
Berdasarkan kajian FINI, pasar global diprediksi mengalami surplus pasokan nikel sebesar 209 juta ton pada 2026 dan 261 juta ton pada 2027.
>>> Cara Cek PIP Juni 2026 Lewat HP Menggunakan NISN dan NIK
Indonesia berkontribusi 65 persen dari total surplus tahun 2026, sehingga memiliki peran krusial dalam mengendalikan volatilitas harga.
