⌂ Beranda News Harga Emas Antam 5 Juni 2026 Naik Rp 11.000 Jadi Rp 2.770.000 Per Gram

Harga Emas Antam 5 Juni 2026 Naik Rp 11.000 Jadi Rp 2.770.000 Per Gram

Harga Emas Antam 5 Juni 2026 Naik Rp 11.000 Jadi Rp 2.770.000 Per Gram
Harga Emas Antam 5 Juni 2026
A A Ukuran Teks16px

Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun, harga emas Antam hari ini dipatok sebesar Rp 2.770.000 per gram. Angka tersebut naik Rp 11.000 dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

>>> Hery Gunardi: AI Pendorong Utama Evolusi Industri Perbankan

Selaras dengan kenaikan harga jual, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam juga meningkat.

Buyback kini berada di level Rp 2.583.000 per gram, naik Rp 12.000 dari hari sebelumnya.

Pengaruh Pasar Global

Kenaikan harga emas lokal ini tidak terlepas dari pergerakan emas di pasar global.

Harga emas dunia di pasar spot ditutup pada level US$ 4.474,8, setelah melejit 0,9% dalam satu hari.

>>> Schneider Electric Ungkap Strategi Atasi Lonjakan Konsumsi Energi AI

Dalam tujuh hari perdagangan terakhir, emas dunia mencatat pertumbuhan 0,47% secara point-to-point. Namun, tren penguatan ini harus melewati dinamika yang cukup terjal.

Kondisi pasar global saat ini masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Hubungan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait penyelesaian konflik geopolitik dinilai masih abu-abu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi perdamaian telah memasuki tahap "akhir". Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan "belum ada kemajuan nyata yang berhasil dicapai."

Di sisi lain, kelompok Hizbullah yang didukung Teheran secara tegas menolak draf gencatan senjata antara Israel dan Libanon.

Padahal, kesepakatan tersebut sedang dimediasi oleh Washington.

>>> Saham TPIA Melejit 24 Persen Lalu Anjlok, Investor Asing Jual Besar-besaran

Situasi ini memicu keraguan publik terhadap efektivitas upaya Trump untuk menyudahi pertikaian di Timur Tengah. Dampak geopolitik ini langsung merembet ke sektor perekonomian global.

Konflik yang berkepanjangan mengganggu jalur distribusi energi utama di Selat Hormuz. Hambatan logistik ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan memperparah kecemasan terhadap inflasi global.

Jika tensi politik di Timur Tengah terus memanas dan memicu inflasi tidak terkendali, bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan menghadapi dilema dalam menetapkan arah kebijakan moneter.

Pelonggaran moneter melalui pemotongan suku bunga acuan akan sulit direalisasikan. Kondisi makroekonomi seperti ini secara historis kurang menguntungkan bagi pergerakan jangka panjang emas.

>>> Toyota Corolla Pikap Unibody Tertangkap Uji Coba di Brasil

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, daya tarik memegang emas cenderung menurun saat suku bunga global masih bertahan di level tinggi.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru