Perkembangan kecerdasan buatan generatif (Generative AI) memicu tantangan besar berupa konsumsi energi listrik yang masif. Model bahasa besar (LLM) memerlukan daya signifikan untuk pelatihan maupun operasional komputasi.
Menanggapi fenomena ini, Schneider Electric memposisikan diri sebagai mitra strategis industri teknologi untuk mengoptimalkan efisiensi daya.
>>> Saham TPIA Melejit 24 Persen Lalu Anjlok, Investor Asing Jual Besar-besaran
Langkah ini krusial demi menjaga komitmen emisi net zero global, seperti dilaporkan dalam ajang Computex 2026.
"Peran Schneider Electric adalah membantu komputer agar lebih efisien," ujar Paul Tyrer, Global Vice President, AI Enterprise & Partner Ecosystem Schneider Electric.
Fokus utama perusahaan adalah melakukan pengoptimalan menyeluruh agar penggunaan energi menghasilkan token watt serendah mungkin. Schneider Electric membagi wilayah operasionalnya ke dalam tiga pilar efisiensi.
Tiga Pilar Efisiensi Energi
Pilar pertama berfokus pada desain elektrikal serta mekanikal yang efisien sejak awal pembangunan data center. Schneider membantu meminimalkan penggunaan daya lewat akurasi cetak biru fasilitas.
Pilar kedua menerapkan simulasi pascadesain melalui teknologi kembaran digital (digital twins). Infrastruktur diuji stres menggunakan perangkat lunak khusus untuk memastikan performa optimal sebelum dioperasikan.
"Kami membahas eTap dan Aviva sebagai alat utama yang dapat digunakan organisasi untuk simulasi dan optimasi," kata Paul Tyrer memaparkan perangkat lunak andalan mereka.
>>> Toyota Corolla Pikap Unibody Tertangkap Uji Coba di Brasil
Pilar terakhir berpusat pada manajemen operasi dan penyimpanan daya.
Melalui pemantauan ketat, operator dapat mengawasi titik-titik panas (hotspot) di dalam data center serta melakukan perawatan berkala perangkat.
Membangun ekosistem AI ramah lingkungan membutuhkan kolaborasi luas.
Schneider Electric merangkul produsen cip terkemuka seperti NVIDIA dan AMD untuk meninjau rencana pengembangan teknologi chipset masa depan.
Kebutuhan teknis tersebut kemudian diterjemahkan kepada produsen server seperti Dell, Supermicro, Asus, dan Gigabyte.
Langkah ini membantu produsen memahami ketergantungan kekuatan daya, aspek keberlanjutan, dan sistem pengendalian komputer generasi berikutnya.
>>> 7 Cara Mengecilkan MB Foto di HP dengan Mudah
Bagi perusahaan yang memiliki pusat data lama atau legasi, modernisasi infrastruktur elektrikal menjadi opsi realistis. Langkah ini mencakup pembaruan tegangan rendah, perangkat switchgear, hingga distribusi akhir.
Di sektor pendinginan, pemasangan teknologi liquid cooling dan perbaikan mekanisme internal wajib diterapkan jika batas pendingin udara konvensional telah mencapai kapasitas maksimal.
Tantangan Regional dan Sovereign AI
Tantangan pemenuhan energi bersih juga menjadi isu krusial di kawasan Asia Tenggara.
Schneider membantu mengukur aspek keberlanjutan yang mencakup emisi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 menggunakan lebih dari 2.500 konsultan global.
Di sisi lain, muncul tren Sovereign AI yang mendorong setiap negara, termasuk Indonesia, untuk memproses teknologi secara lokal demi kedaulatan data dan minimalisasi latensi.
Pergeseran dari sistem cloud terpusat menuju fasilitas regional menuntut penguatan fungsi dukungan teknis berskala lokal.
>>> Daftar Harga OTR Mazda Juni 2026 di Indonesia, dari Rp371 Juta hingga Rp1,1 Miliar
"Yang kami lihat adalah pergerakan yang mengharuskan kami sebagai organisasi untuk bermain di kawasan," ucap Paul Tyrer menutup penjelasannya.