Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada penutupan perdagangan Sesi I, Kamis (4/6/2026).
Penurunan signifikan ini menempatkan pasar saham Indonesia sebagai bursa dengan performa terburuk di Asia, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz.
>>> IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak 2020, Investor Asing Jual Besar-besaran
IHSG merosot 3,48% dibandingkan hari sebelumnya dan parkir di level 5.734 pada paruh pertama perdagangan.
Posisi ini menjadi yang paling rendah bagi indeks domestik sejak Desember 2020 atau dalam kurun waktu 5,5 tahun terakhir.
Sepanjang sesi pagi, indeks bergerak pada rentang terendah 5.644 hingga batas tertinggi 5.924.
Aktivitas perdagangan mencatat volume sebanyak 22,84 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,73 triliun melalui frekuensi 1,38 juta kali.
Sektor dan Saham Tertekan
Sektor barang baku memimpin kejatuhan sebesar 5,95%, diikuti oleh sektor properti yang terpangkas 5,23%, dan sektor perindustrian turun 4,58%.
Sektor transportasi serta infrastruktur juga melemah masing-masing 4,44% dan 4,37%.
Kondisi pasar menunjukkan tekanan jual yang masif dengan 683 saham melemah.
Sementara itu, hanya 63 saham yang berhasil menguat dan 62 saham lainnya stagnan tidak bergerak.
Jajaran saham LQ45 yang menjadi top losers antara lain PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) amblas 12% dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) jatuh 9,77%.
Selain itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) ambruk sebesar 9,52%.
>>> Kemendikdasmen Salurkan Dana PIP 2026 Termin Dua, Cek Status via Ponsel
Koreksi dalam ini kontras dengan beberapa indeks Asia yang menguat, seperti KOSDAQ naik 2,36%, KLCI 0,89%, SETI 0,82%, dan SENSEX 0,06%.
Namun, mayoritas bursa regional tetap memerah.
NIKKEI 225 terpangkas 3,48%, Hang Seng minus 1,49%, Straits Time turun 1,47%, dan Weighted Index melemah 1,31%.
Penurunan juga menimpa TOPIX 1,25%, KOSPI 1,22%, PSEI 1,04%, CSI 300 1,02%, Shanghai Composite 0,57%, Shenzhen Comp.
0,48%, serta Ho Chi Minh 0,02%.
Tekanan utama IHSG berasal dari aksi jual investor asing yang membukukan jual bersih (net sell) Rp993,29 miliar.
Pada pasar reguler, net sell asing menyentuh Rp864,07 miliar, melanjutkan tren pelepasan aset Rp1,39 triliun pada hari sebelumnya.
Panin Sekuritas menyatakan ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran turut menekan pasar global.
Konflik bersenjata antara militer AS dan Iran terus berlanjut hingga menyeret Kuwait dan Bahrain dalam eskalasi serius sejak gencatan senjata April lalu.
Kondisi geopolitik tersebut berisiko menggagalkan pembicaraan damai sekaligus merusak kesepakatan gencatan senjata yang sudah berjalan.
Dari dalam negeri, sentimen tertekan oleh perilisan Peraturan Pemerintah (PP) No.16 Tahun 2026 tentang tata kelola Danantara.
>>> Kemenkes Perluas Skrining untuk Kendalikan Penyakit Hati Kronis
Regulasi baru ini membuka opsi penggunaan APBN sebagai modal holding investasi baru di bawah Danantara.
"Pasar juga tengah mencermati proses pengesahan RUU P2SK yang tengah berjalan di DPR," terang Panin dalam catatan terbarunya, Kamis siang.
Mengenai proyeksi pergerakan, Phintraco Sekuritas menilai IHSG gagal mempertahankan area support target di 5.750.
Kegagalan ini memicu kewaspadaan terhadap tren strong bearish menuju support trendline 5.500 pada grafik bulanan.
"Selama IHSG masih konsisten membentuk lower low dengan black marubozu, belum terdapat peluang rebound," tegas Phintraco Sekuritas dalam analisisnya.
Danareksa Sekuritas menambahkan bahwa struktur pergerakan harga saat ini masih menunjukkan pola downtrend.
Pembentukan lower high dan lower low terus berlanjut tanpa sinyal pembalikan arah yang kuat pada grafik mingguan.
"Belum terlihat adanya sinyal pembalikan tren yang kuat di grafik mingguan," tulis riset BRIDS.
Berdasarkan analisis teknikal historis periode 2020–2021, target support terdekat berikutnya berada di kisaran 5.350–5.400.
Jika tekanan jual belum mereda, level 5.000 akan menjadi support psikologis sekaligus area support mayor berikutnya.
>>> IHSG Anjlok 3,48 Persen pada Sesi I, Saham Big Bank Ikut Tertekan
"Perlu diingat, area support dan resistance di atas merupakan analisa teknikal berdasarkan pergerakan harga historis," terang BRIDS.