Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan Kamis (4/6). Indeks acuan ditutup anjlok lima persen ke level 5.644,23.
Level tersebut merupakan posisi terendah sejak Desember 2020. Sehari sebelumnya, IHSG masih bertengger di 5.941,07.
>>> Viral Influencer Cosplay Disabilitas Dihujat Warganet
Sentimen Negatif Makro dan Pelemahan Rupiah
Penurunan ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif makroekonomi. Pelemahan nilai tukar rupiah turut memperburuk kondisi pasar.
Rupiah dilaporkan telah menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Hal ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap beban operasional korporasi yang memiliki utang valas atau bergantung pada impor.
>>> New York Knicks Kalahkan San Antonio Spurs di Game 1 Final NBA
Faktor eksternal juga mempengaruhi, termasuk penurunan prospek Danantara Investment Management. Pasar juga mengantisipasi publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings, yang rumor negatifnya telah memicu aksi jual.
Investor asing mempercepat pengurangan eksposur aset ekuitas di Indonesia.
>>> Polisi Periksa Asisten YouTuber RA Terkait Gas Nitrous Oxide
Langkah ini dilakukan menjelang dua agenda penting dari MSCI, yaitu Market Accessibility Review pada 19 Juni dan Classification Review pada 24 Juni.
Emiten Besar Terpuruk ke Level Historis
Tekanan jual berdampak pada saham-saham berkapitalisasi besar. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) anjlok ke level 1.635, setara dengan posisi harga September 2005.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) terpuruk ke level 4.210.
>>> Mendag Siapkan Skema Barter dengan Filipina Antisipasi Pelemahan Rupiah
Emiten besar lain di sektor kesehatan, properti, dan menara telekomunikasi seperti KLBF, BSDE, dan TOWR juga tergerus ke tingkat harga periode 2010 hingga 2012.