Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,26 persen ke level Rp17.887 per dolar AS pada Rabu (3/6/2026) pagi.
Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia.
>>> IHSG 3 Juni 2026 Dibuka Menguat ke 6.207, Lalu Berbalik Melemah
Mata uang Garuda sempat membuka sesi perdagangan dengan penurunan 0,18 persen di posisi Rp17.870 per dolar AS.
Melemahnya rupiah terjadi di tengah menguatnya harga minyak Brent sebesar 0,76 persen ke US$96,73 per barel.
>>> IHSG Berfluktuasi di Rentang 6.135-6.213, Saham DSSA Pimpin Top Gainers
Indeks dolar AS bertahan di level tinggi 99,25. Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdepan di kawasan Asia.
Pelemahan Dipengaruhi Faktor Eksternal dan Internal
Rupiah melemah lebih dalam dibandingkan ringgit Malaysia, yuan offshore, yuan China, dan peso Filipina. Sebaliknya, dolar Taiwan, yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hongkong justru mengalami penguatan terbatas.
Dari sisi internal, laporan Bank Indonesia menunjukkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 defisit US$9,15 miliar.
>>> Kejagung: Hakim Banding Berwenang Tahan Ibrahim Arief
Angka ini membengkak dari defisit kuartal sebelumnya yang sebesar US$6,07 miliar.
Defisit transaksi berjalan mencapai US$4 miliar atau 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia membutuhkan lebih banyak devisa untuk impor energi.
>>> BPS: China, AS, dan India Dominasi Ekspor Non-Migas Indonesia
Tekanan inflasi domestik yang melonjak ke level 3,08 persen turut mempersempit ruang penguatan rupiah. Inflasi merambat ke sektor jasa dan konsumsi rumah tangga.