⌂ Beranda News Wisatawan Kini Prioritaskan Keamanan dan Fleksibilitas dalam Merencanakan Liburan

Wisatawan Kini Prioritaskan Keamanan dan Fleksibilitas dalam Merencanakan Liburan

Wisatawan Kini Prioritaskan Keamanan dan Fleksibilitas dalam Merencanakan Liburan
Wisatawan merencanakan perjalanan dengan peta dan paspor
A A Ukuran Teks16px

Ketidakpastian geopolitik global tidak menyurutkan minat masyarakat untuk bepergian.

Banyak wisatawan kini mengubah strategi perencanaan perjalanan mereka dengan lebih mengutamakan faktor keamanan, fleksibilitas, dan kesiapan menghadapi situasi tak terduga.

>>> Pasar Kendaraan Listrik Timur Tengah Tumbuh 40 Persen pada 2025

Laporan Smarter Summer dari Skyscanner mencatat sebanyak 91 persen wisatawan asal Singapura tetap optimistis untuk menikmati liburan pada musim panas tahun ini.

Sebanyak 35 persen di antaranya masih aktif mencari destinasi dan merencanakan liburan meskipun belum memesan tiket perjalanan.

Pakar tren dan destinasi wisata Skyscanner di Singapura, Brendan Walsh, menilai pola perjalanan saat ini memperlihatkan kombinasi antara antusiasme menjelajah dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan.

"Alih-alih memesan perjalanan enam bulan sebelumnya seperti dulu, kini banyak wisatawan memilih melakukan reservasi lebih dekat dengan tanggal keberangkatan.

Mereka ingin tetap fleksibel menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi," ujar Walsh.

Sejumlah negara yang dikenal stabil secara politik dan bertingkat keamanan tinggi kini semakin memikat perhatian, seperti Portugal, Kanada, dan Swiss.

>>> BIPI Targetkan Pendapatan 2026 Naik Dua Digit, Optimistis Laba Melonjak

Tren serupa terlihat di kawasan Asia, di mana pelancong mulai beralih dari lokasi yang terlalu ramai menuju tempat yang menawarkan suasana tenang, autentik, dan nyaman.

Namun, Brendan Walsh menjelaskan bahwa peningkatan minat terhadap destinasi regional Asia ini bukan semata-mata karena wisatawan menghindari wilayah tertentu yang terdampak konflik.

"Tren ini lebih didorong oleh keinginan wisatawan untuk menemukan pengalaman baru dan preferensi perjalanan yang terus berkembang," jelasnya.

Di sisi lain, penasihat keamanan dari International SOS, Lindsay Maloney, menilai para pelancong modern perlu mengubah pola pikir mereka saat bepergian.

Kesiapan menghadapi gangguan seperti keterlambatan penerbangan, cuaca ekstrem, kendala konektivitas, hingga aksi demonstrasi kini menjadi hal yang sangat penting.

>>> IHSG Melonjak 91 Poin, Dipicu Perbaikan Data Manufaktur dan Inflasi Terjaga

"Asumsi bahwa perjalanan akan selalu berjalan mulus sudah tidak realistis lagi. Bukan berarti kita harus takut bepergian, tetapi perlu lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan," ujarnya.

Oleh karena itu, wisatawan disarankan untuk selalu memiliki rencana cadangan sebelum berangkat agar keputusan dapat diambil lebih cepat dan tenang saat menghadapi situasi mendadak.

Selain menyusun rencana perjalanan, penguatan kesiapan digital juga sangat dianjurkan.

Langkah yang direkomendasikan meliputi pengunduhan peta offline, penyimpanan kontak darurat serta kedutaan besar, hingga penyimpanan salinan paspor dan visa yang dapat diakses tanpa koneksi internet.

Lindsay Maloney juga mengingatkan para wisatawan agar lebih berhati-hati saat membagikan lokasi atau aktivitas secara langsung di media sosial karena dapat meningkatkan risiko keamanan pribadi.

Semangat untuk menjelajah dunia tetap tinggi di tengah berbagai tantangan yang ada.

>>> Teddy Indra Wijaya Bantah Kritik Anggaran Perjalanan Dinas Presiden, Klaim Kelebihan Biaya Ditanggung Pribadi

Perubahan mendasar hanya terletak pada cara para wisatawan modern mempersiapkan diri dengan memilih destinasi aman, jadwal fleksibel, serta penyediaan rencana cadangan yang matang.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru