Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperkirakan akan berbalik menguat setelah tekanan akibat rebalancing MSCI mereda. Koreksi tajam pada akhir pekan lalu dinilai bersifat teknis.
Pada perdagangan Jumat (29/5), BBCA ditutup turun 4,60% ke level Rp5.700.
>>> Asing Borong Saham TPIA Rp 114,7 Miliar di Tengah Net Sell Rp 354,2 Miliar
Pelemahan itu terjadi di tengah transaksi besar dan aksi jual asing pada saham perbankan berkapitalisasi besar.
Analis Saham Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan mengatakan koreksi tersebut tidak mencerminkan perubahan fundamental perseroan. Menurutnya, tekanan lebih berkaitan dengan penyesuaian portofolio investor global yang mengikuti indeks MSCI.
"Kalau melihat momentumnya, tekanan terbesar kemungkinan berasal dari rebalancing MSCI.
Karena Jumat kemarin adalah hari terakhir sebelum perubahan indeks efektif, maka banyak fund pasif harus menyesuaikan bobot portofolionya pada hari itu juga," ujar Jonathan, Senin (1/6).
Prospek Setelah Rebalancing
Rebalancing MSCI adalah proses penyesuaian komposisi dan bobot saham dalam indeks global.
>>> IHSG Melesat ke Level 6.218 pada Sesi I Perdagangan 2 Juni 2026
Meski BBCA tidak dikeluarkan dari indeks utama, saham likuid ini tetap terdampak karena investor global menyesuaikan bobot Indonesia secara keseluruhan.
"BBCA itu sangat likuid dan bobotnya besar.
Jadi ketika ada fund yang harus mengurangi eksposur Indonesia, saham seperti BBCA bisa ikut tertekan meskipun fundamentalnya tidak berubah," jelas Jonathan.
Tekanan teknis biasanya mencapai puncak pada hari efektif rebalancing. Setelah proses penyesuaian selesai, pergerakan saham kembali ditentukan oleh fundamental, valuasi, dan sentimen pasar.
"Kalau BBCA bisa bertahan di atas Rp5.700 dan foreign sell mulai mereda, peluang rebound ke area Rp5.850 sampai Rp6.000 cukup terbuka.
Tetapi kalau tekanan asing masih besar, saham ini masih bisa bergerak volatil lebih dulu," kata Jonathan.
>>> BRIN Minta Maaf Usai Unggah Garuda AI pada Hari Lahir Pancasila
Sentimen positif juga datang dari rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali pada 2026. BCA menyatakan hal itu sebagai komitmen memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.
"Setelah tekanan MSCI selesai, investor akan kembali melihat kualitas emiten. Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen.
Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara," ujar Jonathan.
Investor tetap perlu mencermati arah IHSG dan aliran dana asing. Jika tekanan asing masih berlanjut, BBCA berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.
"Worst case dari sisi teknis MSCI berpotensi sudah lewat. Selanjutnya, BBCA akan kembali diuji oleh fundamentalnya.
>>> BTN Perkuat Ekosistem Perbankan untuk Genjot Dana Murah
Dan sejauh ini, fundamental BBCA masih menjadi salah satu yang paling solid di sektor perbankan," pungkas Jonathan.