⌂ Beranda News Ancaman Genangan Permanen Hantui Pantura Akibat Penurunan Tanah

Ancaman Genangan Permanen Hantui Pantura Akibat Penurunan Tanah

Ancaman Genangan Permanen Hantui Pantura Akibat Penurunan Tanah
Ilustrasi genangan di Pantura akibat penurunan tanah
A A Ukuran Teks16px

Wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) menghadapi ancaman serius di masa depan. Risiko genangan di kawasan pesisir diprediksi meningkat akibat penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka laut.

Daerah terdampak meliputi Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak. Laju kenaikan muka air laut di sana mencapai 2,4–4,3 milimeter per tahun.

>>> 4 Situs Web Gratis untuk Unduh Konten Instagram Kualitas Tinggi

Pemantauan Deformasi dengan Teknologi Geodesi

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN, Agung Syetiawan, menjelaskan dinamika deformasi dipantau dengan geodesi dan penginderaan jauh.

Instrumen yang digunakan meliputi InSAR, GNSS, pengamatan terestris, dan pemodelan geospasial multidata.

Data GNSS dari InaCORS menunjukkan pola deformasi vertikal yang tidak linear di sebagian besar Pantura. Data tersebut memvalidasi hasil pengamatan satelit SAR.

Eksploitasi air tanah yang terus meningkat menjadi faktor utama penurunan tanah di pesisir Pantura. Kebutuhan air bersih dan aktivitas tambak udang vaname meningkatkan tekanan terhadap cadangan air tanah.

>>> Hearts2Hearts Siap Comeback Lewat Mini Album Lemon Tang Juni 2026

Penurunan tanah memperburuk ancaman kenaikan muka laut. Tren kenaikan air laut diperoleh dari analisis data altimetri.

Melalui pemodelan bath up model, beberapa kawasan pesisir Pantura berpotensi mengalami genangan permanen jika mitigasi tidak segera dilakukan.

Perluasan genangan telah terjadi di Muara Gembong serta pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.

Agung menilai pembangunan infrastruktur seperti giant sea wall harus berdasarkan kajian geospasial komprehensif.

Kebijakan pembangunan pesisir berbasis data geospasial penting, termasuk pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi tanggul laut.

>>> Disnaker Medan Gelar Rabu Walk in Interview 3 Juni 2026, Cek Lowongan Kerja

"Save water, save life, air bersih yang kita hemat hari ini adalah nafas kehidupan untuk generasi masa depan," kata Agung.

Tantangan pemantauan adalah posisi stasiun pengamatan yang tidak selalu di lokasi penurunan tertinggi.

BRIN bekerja sama dengan Teknik Geodesi dan Geomatika ITB melakukan pengamatan episodik dengan pilar benchmark permanen di titik hotspot.

Kepala PRGI BRIN, Rokhis Khomarudin, menegaskan penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir adalah isu multidisiplin yang butuh riset berkelanjutan.

>>> Lo Kheng Hong Borong 19,9 Juta Saham SIMP, Kepemilikan Tembus 5,11%

"Pemanfaatan GIS dan remote sensing penting untuk pemantauan, analisis, dan strategi mitigasi berbasis data ilmiah," ujarnya.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru