Tim ekonom Bank Mandiri memproyeksikan inflasi bulanan Indonesia akan meningkat menjadi 0,4 persen pada Mei 2026. Angka ini naik signifikan dari realisasi April sebesar 0,13 persen.
Lonjakan tersebut diperkirakan mengerek inflasi tahunan dari 2,42 persen menjadi 3,21 persen. Proyeksi ini didorong oleh kenaikan tarif transportasi udara dan pemulihan harga kelompok pangan bergejolak.
>>> Minum Vitamin Berlebihan Picu Gangguan Kesehatan dan Kerusakan Ginjal
Pemicu Inflasi
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan kenaikan laju inflasi terutama dipicu lonjakan harga tiket pesawat. Selain itu, harga pangan bergejolak kembali mencatat inflasi setelah sebelumnya deflasi.
Komoditas pangan bergejolak diperkirakan mengalami inflasi tipis 0,2 persen secara bulanan.
Kenaikan harga terjadi pada cabai merah (23%), bawang merah (4,1%), daging sapi (0,4%), dan beras (0,3%).
>>> Komdigi Jaga Persaingan Sehat di Tengah Gelombang Konsolidasi Telekomunikasi
Sebaliknya, penurunan harga masih terjadi pada telur ayam (5,2%), cabai rawit (4,7%), daging ayam (3,2%), dan bawang putih (2,9%).
Inflasi inti diperkirakan melambat menjadi 0,19 persen karena penurunan harga emas sebesar 0,20 persen. Pelemahan rupiah sebesar 2,35 persen tetap memberi tekanan pada barang impor.
Komponen harga yang diatur pemerintah diprediksi melonjak menjadi 1,30 persen. Kenaikan harga tiket pesawat mencapai 35,31 persen akibat naiknya harga avtur dunia.
>>> PT Taspen Cairkan Gaji Ke-13 Pensiunan ASN Mulai 2 Juni 2026
Andry menambahkan harga minyak goreng juga naik 1,3 persen secara bulanan. Gejolak harga global yang berdampak pada komoditas dan energi non-subsidi menjadi perhatian otoritas moneter.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan pihaknya terus memperkuat sinergi dengan pemerintah. Koordinasi dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID).
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan realisasi data inflasi Mei 2026 pada Selasa (2/6/2026).
>>> Wings Air Buka Suara Soal Video Viral Cable Tie di Baling-Baling Pesawat
BPS juga akan merilis indikator lain seperti pariwisata, nilai tukar petani, dan produksi padi-jagung.
