⌂ Beranda News Trump Perketat Syarat Damai dengan Iran, Desak Pemusnahan Uranium

Trump Perketat Syarat Damai dengan Iran, Desak Pemusnahan Uranium

Trump Perketat Syarat Damai dengan Iran, Desak Pemusnahan Uranium
Donald Trump memperketat syarat perjanjian damai dengan Iran
A A Ukuran Teks16px

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat ketentuan dalam draf perjanjian untuk mengakhiri konflik tiga bulan dengan Iran pada Jumat, 29 Mei 2026.

Langkah ini dilaporkan bertujuan menekan Iran agar segera menyetujui nota kesepahaman yang telah dikirim kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

>>> Menkeu Targetkan PT Danantara Dongkrak Penerimaan Negara Lewat Penataan Ekspor

Tuntutan Baru Trump

Melalui akun media sosial Truth Social, Trump memaparkan sejumlah tuntutan krusial sebelum memimpin pertemuan di Situation Room Gedung Putih.

Ia menetapkan prasyarat ketat mengenai pembongkaran material nuklir dan pembukaan jalur maritim internasional.

"DESTROYED," tulis Trump, merujuk pada keharusan pemusnahan uranium yang diperkaya tinggi oleh Iran melalui koordinasi bersama Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Trump juga menegaskan posisinya mengenai pembukaan jalur perdagangan minyak global dan penundaan transaksi keuangan kedua belah pihak.

"No money will be exchanged, until further notice," tegas Trump.

Menurut Trump, poin-poin kesepakatan lain yang sudah disetujui sebelumnya memiliki bobot kepentingan yang jauh lebih rendah dibandingkan urusan nuklir dan Selat Hormuz.

>>> Masyarakat Diminta Rombak Strategi Keuangan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

"Other items, of far less importance, have been agreed to," ujarnya.

Sebelum memasuki ruang rapat, Trump mengumumkan rencana pengambilan keputusan strategis kepada publik.

"I will be meeting now, in the Situation Room, to make a final determination," katanya.

Namun, pertemuan tersebut berakhir tanpa pengumuman resmi dari Gedung Putih.

Sementara itu, militer AS dilaporkan tetap melumpuhkan kapal kargo berbendera Gambia, Lian Star, yang mencoba menembus blokade laut di Teluk Oman.

Reaksi Iran

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, menyatakan keberatan mendasar terhadap retorika militer dan tekanan ekonomi AS selama proses diplomasi.

>>> China Genjot Hubungan Dagang Asia Selatan Lewat Expo Kunming

"By continuing the naval blockade and making excessive demands in negotiations, he has once again proven that he is not inclined toward negotiation and is pursuing other objectives," kata Rezaee.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga melayangkan kritik tajam melalui media sosial.

"We seize concessions not through dialogue, but with missiles; in negotiations, we merely make them understand," tulisnya.

Ghalibaf menambahkan bahwa Iran tidak memiliki kepercayaan pada jaminan atau kata-kata, hanya pada tindakan nyata.

"The winner of any agreement is the one who is better prepared for war from the day after," pungkasnya.

Media pemerintah Iran, Fars, melaporkan bahwa draf awal mencakup pengembalian aset Iran yang dibekukan sebesar 12 miliar dolar AS dan pembersihan ranjau di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.

>>> Jepang Uji Coba Terakhir Lawan Islandia Sebelum Piala Dunia 2026

Dampak ekonomi konflik ini telah memicu lonjakan harga energi global serta menurunkan kinerja sektor pariwisata di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru