Rencana rahasia yang dirancang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan Israel untuk menempatkan mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, sebagai calon pemimpin masa depan terungkap melalui laporan terbaru surat kabar The New York Times pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Skenario politik pascaperang tersebut mengarahkan agar Ahmadinejad memisahkan diri dari struktur keamanan Iran saat ini.
>>> Timnas Australia Hadapi Tekanan Suporter Meksiko di Pasadena
Namun, operasi militer untuk membebaskannya dari tahanan rumah justru membuatnya terluka dan keberadaannya kini belum diketahui.
Laporan kerja sama ini memicu skeptisisme tinggi dari kalangan analis.
Hal itu karena rekam jejak Ahmadinejad yang dikenal memiliki retorika anti-Israel yang sangat agresif selama menjabat sebagai presiden pada periode 2005 hingga 2013.
"Perlu Anda ketahui bahwa rezim yang dibenci ini [Israel] berada di jalur menuju kehancuran. Dengan kehendak Tuhan, rezim ini akan runtuh dan tidak ada faktor yang dapat menyelamatkannya.
Rezim ini telah mencapai akhir perjalanannya dan akan segera dihapus dari peta geografis," kata Mahmoud Ahmadinejad, Mantan Presiden Iran.
Meskipun memiliki rekam jejak yang keras, mantan kepala intelijen luar negeri Mossad menilai penolakan keras dari figur populis tersebut sempat memberikan keuntungan diplomasi bagi Tel Aviv.
Hal itu dalam meyakinkan dunia terkait bahaya nuklir Teheran.
>>> Konser F FOREVER di Jakarta Obati Kerinduan Milenial
"Hadiah terbesar Iran bagi Israel," ujar Efraim Halevy, Mantan Kepala Mossad.
Penilaian terhadap karakter kepemimpinan Ahmadinejad juga dianalisis oleh Institute for National Security Studies Israel.
Mereka melihat adanya kontradiksi besar serta tindakan oportunistis dalam upayanya membangun citra yang lebih moderat.
"Ahmadinejad selama masa kepresidenannya merupakan kombinasi populisme dan oportunisme," tulis Raz Zimmt, Kepala Program Iran dan Poros Syiah di Institute for National Security Studies Israel.
Zimmt menambahkan bahwa Ahmadinejad tidak mempunyai basis dukungan yang cukup kuat untuk merebut kembali kekuasaan di Iran.
Hal itu meskipun ia aktif mencoba menarik perhatian audiens Barat melalui media sosial.
Tingkat validitas terkait rencana operasional untuk mengembalikan Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan ini juga memicu peringatan dari akademisi Northeastern University.
Mereka meminta agar informasi tersebut disikapi secara waspada.
>>> Meksiko Uji Coba Lawan Australia di Pasadena Jelang Piala Dunia 2026
"Skeptisisme yang sangat tinggi," kata Max Abrahms, Profesor Ilmu Politik di Northeastern University.
Di sisi lain, kebenaran mengenai data dan dokumen rencana pembentukan rezim baru ini tetap dipertahankan oleh pihak redaksi media Amerika Serikat.
Mereka mengklaim telah melakukan wawancara mendalam dengan pejabat militer dan intelijen.
"Seterusnya yakin," kata Redaksi The New York Times.
Di tengah silang pendapat tersebut, pengamat keamanan senior dari Israel memberikan pandangan ringkas mengenai kegilaan dari dinamika skenario politik yang melibatkan mantan pemimpin Iran itu.
"Kisah ini gila dalam banyak hal," tulis Yossi Melman, Analis Keamanan Israel Senior.
Kemunculan kembali nama Ahmadinejad dalam konstelasi politik ini dipicu oleh faktor ketenaran serta jarak politiknya yang merenggang dengan kelompok elite Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
>>> Christian Scott Raih Kemenangan Perdana MLB, New York Mets Tekuk Miami Marlins 6-1
Hal itu di tengah perluasan konflik Timur Tengah yang kini turut melibatkan serangan udara Uni Emirat Arab ke fasilitas energi Iran.