⌂ Beranda News Angel Investor Beralih ke Startup Berkelanjutan, Tinggalkan Hypergrowth

Angel Investor Beralih ke Startup Berkelanjutan, Tinggalkan Hypergrowth

Angel Investor Beralih ke Startup Berkelanjutan, Tinggalkan Hypergrowth
Angel investor berdiskusi dengan pendiri startup tentang model bisnis berkelanjutan
A A Ukuran Teks16px

Aliran pendanaan ke ekosistem teknologi Indonesia menurun tajam sepanjang 2025.

Tech winter global memaksa angel investor di Asia Tenggara beralih dari startup hypergrowth ke perusahaan dengan model bisnis berkelanjutan.

>>> Cara Masuk PKN STAN 2026: Jalur Penerimaan dan Kuota

Data Tracxn menunjukkan nilai investasi perusahaan teknologi dalam negeri hanya US$213 juta pada 2025.

Angka itu turun 38% dibandingkan US$345 juta pada 2024, dan merosot 85% dari puncak US$1,4 miliar pada 2023.

Penurunan terjadi di semua tahap pendanaan, mulai dari seed hingga late-stage. Pasar menghadapi pengetatan modal struktural yang membuat investor sangat selektif.

Meski demikian, potensi investasi angel investor di Asia Tenggara dan Indonesia tetap terbuka. Situasi ini beriringan dengan pergeseran strategi yang kontras dibandingkan masa kejayaan startup 2020-2022.

>>> Andoni Iraola Bawa Bournemouth Tembus Kompetisi Eropa Lewat Strategi Kolektif

Kepemimpinan menjadi perhatian utama investor. "Founder pada akhirnya adalah segalanya.

Perusahaan akan melewati berbagai fase, tetapi founder yang kuat tetap menjadi faktor fundamental," kata angel investor Elisabeth Kurniawan.

Fleksibilitas founder dalam mengambil keputusan krusial di tengah tekanan ekonomi menjadi penentu utama. Proyeksi bisnis akan terus bergerak dinamis mengikuti arah pasar.

>>> Liverpool Pecat Arne Slot Setelah Dua Musim, Andoni Iraola Kandidat Pengganti

Selain ketangguhan internal, fokus utama kini pada kemampuan startup menghadirkan solusi atas masalah riil yang relevan dan terukur.

Prioritas pada Profitabilitas dan EBITDA

Perubahan lanskap ekonomi mengikis doktrin growth at all costs yang sebelumnya dominan di Asia Tenggara.

"Tesis investasi saya sekarang bukan soal tumbuh secepat mungkin, tetapi lebih pada bottom line, EBITDA, dan profitabilitas tahunan," ujar Elisabeth.

Retensi konsumen, peningkatan EBITDA, dan manajemen anggaran ketat dinilai lebih krusial saat ini, meski pertumbuhan pendapatan tetap penting.

>>> Naomi Osaka Melaju ke Babak Ketiga Prancis Terbuka 2026

Sikap penuh perhitungan ini dipertahankan karena mayoritas startup masih dalam transisi dari era pertumbuhan ekstrem.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru