Fenomena memprihatinkan terjadi di Penjara Tochigi, Jepang. Seorang wanita lanjut usia duduk di kursi roda sambil melipat origami dengan cepat tanpa suara.
Di sebelahnya, narapidana lansia lain melakukan aktivitas serupa dalam keheningan karena aturan melarang mereka berbicara selama bekerja.
>>> Cara Cek Penerima Bansos BPNT Mei 2026 Lewat HP, Mudah dan Cepat
Banyak wanita lansia di Jepang sengaja melanggar hukum berulang kali, termasuk melakukan pencurian kecil, agar bisa ditahan.
Langkah nekat ini diambil demi mendapatkan makanan, perawatan harian, dan layanan medis yang tidak mereka peroleh di luar penjara akibat isolasi sosial serta kemiskinan.
Proporsi Narapidana Lansia Meningkat
"Proporsi narapidana lanjut usia meningkat.
Setelah keluar dari penjara, banyak yang melakukan kejahatan serupa dan kembali lagi," kata Hirotsugu Hori, direktur Divisi Urusan Umum penjara, dikutip dari South China Morning Post.
"Dan narapidana ini sering membutuhkan perawatan harian. Mereka membutuhkan bantuan saat mandi atau saat makan," sambungnya.
Penjara Tochigi saat ini menampung 456 narapidana perempuan. Sekitar 32 persen dari total penghuni merupakan lansia di atas 60 tahun.
>>> PSI Ungkap Safari Politik Jokowi Bertujuan Hapus Citra Kader PDIP
Dari keseluruhan narapidana, hanya 40 persen yang dikategorikan dalam kondisi sehat. Sisanya memerlukan bantuan medis, termasuk 21 persen yang teridentifikasi mengalami kecacatan mental.
Pihak pengelola menyebutkan bahwa proporsi narapidana wanita dengan gangguan kesehatan mental di tempat ini jauh lebih tinggi dibandingkan penjara pria.
"Ini mungkin disebabkan oleh pengabaian orang tua mereka ketika masih muda, pada masa perkembangan, dan berarti mereka tidak mendapatkan akses ke pendidikan dan kemudian tidak menghasilkan cukup uang untuk menghidupi diri sendiri," jelas Hori.
Manajemen penjara terpaksa menyesuaikan menu makanan bagi tahanan lansia. Hidangan pokok diubah menjadi bubur dan sayuran dipotong dengan tekstur lebih halus agar mudah dikonsumsi.
Kendala Bahasa dan Kritik HAM
Tantangan lain adalah pengelolaan narapidana asing yang mencapai sepertiga dari total penghuni dari 33 negara.
>>> BI Intervensi Pasar Valas Redam Pelemahan Rupiah ke Rp17.800
Persentase tertinggi berasal dari Thailand sebesar 17 persen dan China 10 persen, yang mayoritas terlibat kasus penyelundupan narkotika.
"Para petugas menggunakan penerjemah dan alat penerjemah bahasa.
Tetapi, penggunaan metode ini cukup sulit dan dapat menyebabkan stres bagi para narapidana," beber Kepala Penjara, Kiyochika Miyoshi.
"Dan karena petugas tidak dapat memahami semua bahasa ini, ada juga masalah keamanan," tambahnya.
Kondisi ini memicu kritik keras dari organisasi hak asasi manusia.
Teppei Kasai, petugas program senior untuk Human Rights Watch, menilai bahwa lembaga pemasyarakatan bukan tempat yang tepat bagi para wanita lansia tersebut.
>>> Saham Gap Inc Anjlok Akibat Pemangkasan Proyeksi Penjualan Tahunan
"Banyak dari perempuan ini dipenjara karena kejahatan tanpa kekerasan, dengan sebagian besar perempuan yang lebih tua (dihukum karena) melakukan pencurian kecil, jadi pertanyaan yang lebih besar adalah apakah mereka seharusnya dipenjara sejak awal," tegas Kasai.
