Angka kelahiran di Jepang pada tahun 2025 merosot ke rekor terendah, yaitu 671.236 bayi. Jumlah ini turun 2,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tingkat kesuburan total juga menyusut menjadi 1,14 dari sebelumnya 1,15. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 40 tahun lalu yang mencapai 1,76.
>>> Jasa Armada Indonesia Siapkan Strategi Jaga Pertumbuhan Berkelanjutan
Menghadapi tren ini, pemerintah Jepang meluncurkan berbagai kebijakan penyeimbang. Salah satu fokus utamanya adalah menggencarkan program perawatan prakonsepsi.
Inisiatif ini bertujuan mendorong masyarakat memperoleh pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan. Metode prakonsepsi pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada 2006 untuk memodifikasi risiko persalinan.
Pendekatan ini kini dinilai komprehensif bagi semua kalangan tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Program ini membantu pengelolaan gaya hidup, perencanaan masa depan, dan pemahaman tentang kesejahteraan reproduksi.
Program sebelum kehamilan sebenarnya sudah masuk dalam kebijakan pemerintah sejak 2018.
>>> Peugeot Siap Luncurkan e-208 GTi pada 12 Juni 2026
Pada Mei tahun lalu, panel Children and Families Agency menyusun rencana lima tahun dengan target 80 persen generasi muda.
Lembaga tersebut akan bekerja sama dengan perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah. Layanan konsultasi bagi masyarakat juga akan ditingkatkan.
Edukasi ini memberikan informasi mengenai pengaruh kebiasaan gaya hidup terhadap generasi masa depan. Masyarakat juga diberi pemahaman tentang dampak usia terhadap tingkat kesuburan.
Pertemuan tingkat wakil menteri dari kementerian terkait telah digelar untuk membahas langkah preventif. Mereka merekomendasikan sosialisasi perawatan prakonsepsi diintegrasikan di lingkungan kerja dan sekolah.
>>> Kortas Tipikor Polri Geledah Kantor WIKA Terkait Korupsi Pabrik Gula
Tantangan Literasi Kesehatan Reproduksi
Kepala pusat perawatan prakonsepsi di National Center for Child Health and Development, Asako Mito, menyebut kasus kehamilan dan persalinan berisiko tinggi masih terus ditemukan.
Kondisi ini dipicu faktor usia lanjut, obesitas, hingga masalah berat badan kurang.
Menurut Mito, sebagian besar masyarakat masih kekurangan literasi kesehatan reproduksi dan seksualitas. "Penting untuk melengkapinya dengan pendidikan seks komprehensif berstandar internasional," ujarnya.
"Menjalani hidup sehat secara fisik dan mental adalah inti perawatan prakonsepsi. Gagasan ini penting bagi semua orang, bukan hanya generasi muda atau yang ingin memiliki anak," tambah Mito.
>>> Meksiko Siapkan Tujuh Juta Kondom Jelang Piala Dunia 2026
Penyebaran informasi akurat dan perawatan tepat bagi kelompok berisiko akan mendukung kesejahteraan bayi baru lahir. Langkah terpadu ini dipercaya dapat menjadi solusi mengatasi penurunan angka kelahiran nasional.