Nilai tukar rupiah terpuruk ke posisi Rp17.874 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.
Pelemahan sebesar 0,48 persen ini menjadikannya level terlemah mata uang Indonesia sepanjang sejarah.
>>> Atasi Anak Sulit Minum Vitamin dengan Solusi Praktis Tanpa Paksaan
Depresiasi pada hari terakhir perdagangan Mei 2026 menggenapi pelemahan rupiah sebesar 2,91 persen sepanjang bulan berjalan. Mata uang Garuda resmi melemah selama tiga bulan berturut-turut.
Tekanan dari Dalam Negeri dan Global
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meredanya sentimen investor global terkait konflik AS-Iran setelah kesepakatan gencatan senjata sementara 60 hari.
Sejumlah mata uang Asia seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, rupee India, dolar Taiwan, yuan China, dan peso Filipina justru menguat.
Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam di Asia sepanjang Mei. Disusul won Korea Selatan yang menyusut 2,1 persen dan yen Jepang sebesar 1,67 persen.
Sejak awal kuartal II-2026, total pelemahan rupiah mencapai 4,92 persen.
>>> Dinas Pendidikan Depok Rilis Jadwal SPMB 2026 untuk TK, SD, dan SMP
Tekanan dari dalam negeri masih membayangi rupiah. Defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan yang melebar menjadi pemicu utama fluktuasi mata uang domestik.
Managing Director Research di Samuel Sekuritas, Harry Su, menyebut rupiah dibayangi risiko penurunan prospek peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global.
Situasi ini berpotensi memicu kepanikan investor obligasi dan mendorong aliran modal keluar.
Pelaku pasar juga menyikapi kebijakan wajib penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri yang diragukan efektivitasnya.
Pasar kini berhati-hati menjelang rilis data inflasi Mei dan neraca perdagangan April pekan depan, sembari mengantisipasi level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
>>> Kementerian ESDM Pastikan Stok BBM Nasional Aman di Tengah Konflik Timur Tengah
Harry Su menambahkan, jika level Rp18.000 tembus, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor keuangan. Investor asing diprediksi mempercepat penjualan aset untuk dialihkan ke dolar AS.
"Investor asing di pasar saham dan obligasi akan mempercepat aksi jual untuk mengamankan aset mereka ke dalam dolar AS," ujar Harry.
Pelaku usaha akan mengantisipasi lonjakan biaya bahan baku impor, yang memicu sentimen negatif pada saham manufaktur dan konsumen.
Tekanan ini diperkirakan memaksa imbal hasil obligasi naik untuk menjaga daya tarik investasi, sehingga beban pembiayaan utang pemerintah ikut membengkak.
UBS memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada Juni dan Agustus.
>>> Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Pengangguran dan PHK Massal di Inggris
Barclays memperkirakan BI Rate bisa naik ke 5,75 persen jika pelemahan berlanjut.