Harga emas dunia mengalami pelemahan hingga jatuh ke bawah level US$ 4.500 per troy ounce pada Jumat (29/5/2026).
Penurunan ini menguji level support jangka panjang pada rata-rata pergerakan 200 hari.
>>> Kemenpar Hapus Akomodasi Ilegal dari OTA Mulai Agustus 2026
Berdasarkan data Kitco, harga emas tercatat hanya menguat tipis 0,17 persen ke level US$ 4.502 per troy ounce saat laporan disusun.
Meski demikian, nilai aset ini masih mampu bertahan di kisaran level psikologis US$ 4.500.
Analis: Pelemahan Bersifat Sementara
Manajer portofolio di Midas Discovery Fund, Tom Winmill, menilai pelemahan saat ini hanya pergerakan tren jangka pendek.
>>> Roket New Glenn Blue Origin Meledak saat Uji Coba di Florida
Faktor fundamental pendorong reli emas tetap kuat, didorong permintaan bank sentral dan risiko struktural ekonomi global.
"Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini," kata Winmill.
Sentimen positif lain datang dari menurunnya kepercayaan terhadap dolar AS sebagai mata uang cadangan. Winmill menyoroti pengaruh dolar yang semakin berkurang terhadap PDB global.
>>> Kementerian PU dan Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat
"Jika dolar AS terus kehilangan posisi sebagai mata uang cadangan, maka dolar akan melemah," ujarnya.
Ancaman inflasi dan perlambatan ekonomi global dinilai menjadi kombinasi menguntungkan bagi emas. Winmill meragukan bank sentral akan agresif mengetatkan kebijakan jika berisiko memicu resesi.
"Langkah selanjutnya mungkin penurunan suku bunga riil. Jika itu terjadi, aset berharga akan terlihat lebih baik karena biaya peluang lebih rendah," jelasnya.
>>> Cal Crutchlow Gantikan Johann Zarco di MotoGP Italia 2026
Kendati proyeksi jangka panjang positif, Winmill mengingatkan investor waspada terhadap perusahaan dengan fundamental lemah yang memanfaatkan momentum pasar.
