⌂ Beranda News Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi untuk Jaga Daya Beli

Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi untuk Jaga Daya Beli

Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi untuk Jaga Daya Beli
Ilustrasi stimulus ekonomi pemerintah
A A Ukuran Teks16px

Pemerintah Indonesia menyiapkan paket stimulus ekonomi baru yang mencakup insentif pajak bagi penulis dan diskon tiket pesawat domestik.

Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.

>>> PT Formosa Ingredient Factory Tbk Bagikan Dividen Rp 6,93 Miliar

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kebijakan tersebut di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta. Insentif berupa Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 1,5 persen diberikan untuk profesi penulis.

"Pokoknya supaya penulis Indonesia lebih aktif menulis, karena bayar pajaknya lebih rendah," ujar Purbaya. Kebijakan ini diharapkan merangsang produktivitas penerbitan buku dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Diskon Tiket Pesawat Domestik

Pemerintah juga mengalokasikan stimulus sektor transportasi udara berupa PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen untuk tiket domestik kelas ekonomi.

Program ini menyasar 2,3 juta penumpang pada masa liburan sekolah 2026 dengan anggaran Rp472,7 miliar.

Selain itu, ada tambahan anggaran untuk periode Natal dan Tahun Baru sebesar Rp722 miliar untuk target 3,7 juta penumpang.

>>> GIVI Indonesia Luncurkan Boks Motor XSpace dengan Kapasitas Fleksibel

Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) dan PJP4U juga dipotong 50 persen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan catatan kritis.

Menurutnya, diskon tiket pesawat belum efektif menjawab persoalan penurunan kelas sosial ekonomi kelompok menengah rentan.

"Akibatnya, subsidi per tiket secara alami lebih banyak dinikmati mereka yang memang rutin bepergian. Dalam bahasa fiskal, insidensinya cenderung regresif," ujar Yusuf.

Ia menilai insentif ini lebih tepat sebagai kebijakan sektoral untuk menjaga permintaan industri penerbangan nasional. Bukan sebagai solusi utama bagi tekanan biaya hidup masyarakat.

"Orang yang sedang khawatir soal cicilan, biaya sekolah, atau risiko kehilangan pekerjaan tidak otomatis merasa lebih aman hanya karena harga tiket turun.

>>> Drake Lampaui Rekor Michael Jackson di Billboard Hot 100

Mereka mungkin malah memilih tidak bepergian sama sekali demi menghemat pengeluaran," katanya.

CORE Indonesia menyarankan pemerintah memperluas instrumen yang menyentuh kebutuhan langsung rumah tangga kelas menengah rentan.

Seperti subsidi transportasi publik harian, menjaga tarif energi, dan memberikan insentif sektor padat karya.

"Manfaat utamanya lebih ke meredam tekanan biaya transportasi udara dan menjaga demand sektor aviasi tetap hidup.

Itu sah sebagai kebijakan sektoral, tetapi jangan dibingkai seolah menjadi solusi utama bagi penurunan kelas menengah," terang Yusuf.

>>> Niacef Luncurkan Gel Niacinamide 4 Persen Pertama di Indonesia

"Problem terbesar kelas menengah sekarang bukan mahalnya liburan, melainkan mahalnya bertahan hidup," tegasnya.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru