⌂ Beranda News Dolar AS Tembus Rp17.949, Rupiah Tertekan Geopolitik dan Fiskal

Dolar AS Tembus Rp17.949, Rupiah Tertekan Geopolitik dan Fiskal

Dolar AS Tembus Rp17.949, Rupiah Tertekan Geopolitik dan Fiskal
Ilustrasi dolar AS dan rupiah
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang masa. Pada Kamis (28/5/2026), dolar AS sempat menembus level Rp17.949.

Kejatuhan mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Ketidakpastian kebijakan fiskal domestik turut memperburuk kondisi.

>>> Huawei Luncurkan Hukum Skala Tau untuk Produksi Cip Setara 1,4 nm

Berdasarkan data Investing pada Kamis (28/5/2026), dolar AS bergerak dalam rentang Rp17.772 hingga Rp17.995.

Sementara itu, data Google Finance mencatat posisi Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC sebelum berbalik ke level Rp17.850.

Di pasar offshore, rupiah juga terpantau melemah melewati level Rp17.800 per dolar AS saat pasar domestik libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), data Refinitiv menunjukkan rupiah bertengger di level Rp17.780 per dolar AS.

Level tersebut menjadi rekor terendah baru saat itu.

Secara year-to-date, pelemahan rupiah telah mencapai sekitar 6,63%. Penyebabnya antara lain tingginya permintaan dolar untuk repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan musim haji.

Dampak Konflik Global dan Respons BI

Ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE, André Perfeito, menjelaskan dampak fluktuasi harga minyak mentah dunia akibat hambatan di Selat Hormuz.

Hal ini mempengaruhi nilai mata uang global.

Konflik Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Guna menahan depresiasi, sejumlah bank sentral termasuk Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan dan mengintervensi pasar valas.

>>> Bea Cukai Soekarno Hatta Gagalkan Penyelundupan Emas Rp45,73 Miliar

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% merupakan respons langsung terhadap memburuknya situasi geopolitik global.

Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5±1%.

Meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar spot, obligasi, hingga non-deliverable forward, penguatan rupiah dilaporkan hanya berlangsung sesaat.

Rupiah kembali melemah di pasar global.

Tekanan Eksternal dan Internal Bersamaan

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah didorong oleh akumulasi faktor eksternal dan internal secara bersamaan.

Selain ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed, kebutuhan dolar untuk impor minyak dan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo membatasi ruang penguatan rupiah.

“BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar,” ucap Ibrahim Assuaibi.

Selain faktor musiman, persepsi risiko investor juga dipengaruhi oleh realisasi defisit APBN 2025 sebesar 2,92% PDB.

Kondisi ini membuat lembaga pemeringkat global seperti Moody's dan Fitch Ratings memangkas outlook Indonesia menjadi negatif.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru