Nilai tukar rupiah diprediksi mengalami tekanan berat hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026).
Kemerosotan ini didorong oleh penguatan dolar AS secara global akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
>>> Pendapatan Neto Blibli Melesat 67 Persen pada Kuartal I-2026
Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily pada Kamis (28/5/2026), mata uang domestik tersebut mencatat penurunan sebesar 46 poin atau sekitar 0,26 persen.
Pergeseran ini menempatkan rupiah pada posisi Rp 17.847 per dolar AS saat laporan disusun.
Sentimen Geopolitik dan Eksternal
Tensi geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah serta Eropa Timur dinilai menjadi pemicu utama pembengkakan tekanan terhadap mata uang garuda.
Kekhawatiran pasar global meningkat signifikan setelah terjadi serangan militer oleh Amerika Serikat terhadap instalasi di Iran.
>>> IEA: Investasi Proyek Minyak Global Diprediksi Turun di Bawah US$500 Miliar pada 2026
Selain memicu potensi perluasan konflik, ketegangan antara Rusia dan Ukraina yang belum mereda ikut mendorong pelaku pasar mengalihkan aset mereka ke dolar AS.
Eskalasi konflik bersenjata ini turut berdampak langsung pada komoditas energi dunia dengan kenaikan harga minyak WTI yang mendekati angka US$ 96 per barel.
Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran baru terkait kenaikan inflasi global.
"Kenaikan harga minyak membuat biaya logistik dan transportasi meningkat. Ini akan berdampak pada inflasi global yang lebih tinggi," ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed juga memperparah situasi dengan prediksi penahanan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama.
>>> RedMagic 11S Pro Resmi Meluncur dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
Tekanan Domestik dan Respons BI
Dari dalam negeri, tekanan rupiah diperkuat oleh tingginya kebutuhan korporasi untuk impor minyak, pembayaran dividen, utang jatuh tempo, serta adanya tren modal asing keluar.
"Tekanan eksternal memang sangat besar, sementara dari internal juga masih ada berbagai sentimen negatif yang membuat investor asing cenderung keluar dari pasar domestik," kata Ibrahim Assuaibi.
Langkah antisipasi diperkirakan bakal diambil oleh Bank Indonesia melalui intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Kendati demikian, ruang bagi penguatan rupiah dalam jangka pendek dinilai masih sangat terbatas karena kuatnya dominasi sentimen global.
>>> Minat Sedan Bekas Tinggi, Honda Civic FD 2008 Tawarkan Desain Sporty
"Rupiah masih berpotensi bergerak melemah dalam perdagangan selanjutnya dan bisa ditutup di kisaran Rp 17.900 hingga mendekati Rp 18.000 per dolar AS," tutup Ibrahim Assuaibi.