Suhu ekstrem yang memecahkan rekor di berbagai wilayah Asia memicu lonjakan permintaan pendingin ruangan lebih awal. Kondisi ini memberikan tekanan berat pada sistem energi kawasan.
Lonjakan konsumsi listrik memaksa perusahaan penyedia energi meningkatkan pengoperasian pembangkit berbahan bakar batu bara dan gas.
>>> Laba Bersih PT Dirgantara Indonesia Melonjak 345 Persen
Aktivitas ini diperkirakan mempercepat penipisan cadangan bahan bakar fosil menjelang puncak musim panas di Belahan Bumi Utara yang dimulai per 1 Juni.
Kenaikan suhu signifikan tercatat di beberapa kota besar berdasarkan data LSEG. Suhu rata-rata Seoul melonjak sekitar 13 persen di atas rata-rata jangka panjang.
Badan Meteorologi Korea mengeluarkan peringatan khusus terkait potensi bahaya cuaca panas.
Peringatan ini dikeluarkan saat suhu maksimum yang dirasakan mencapai 38 derajat Celcius atau suhu tertinggi melebihi 39 derajat Celcius.
>>> Badan Gizi Nasional Ubah Pola Distribusi Makan Bergizi Gratis Jadi 5 Hari
Shanghai mencatat kenaikan suhu 12 persen lebih tinggi dari biasanya. Sementara Tokyo mencatat kenaikan sekitar 10 persen.
Di India, suhu di sejumlah wilayah telah melampaui 40 derajat Celcius. Penduduk terpaksa mencari perlindungan di tempat-tempat berfasilitas pendingin ruangan.
Proyeksi Kenaikan Kepemilikan AC
Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan perluasan ruang hunian yang pesat di wilayah terpanas dunia. Hal ini mendorong proyeksi kenaikan kepemilikan alat pendingin udara.
Persentase rumah tangga global yang dilengkapi pendingin udara diperkirakan melonjak drastis. Menurut IEA, angka tersebut akan meningkat dari sekitar 36% pada tahun 2022 menjadi 60% pada tahun 2050.
>>> PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk Bagikan Dividen Final Rp170 per Saham
Ketergantungan Asia pada energi fosil memperparah situasi.
Lebih dari separuh pasokan listrik masih bersumber dari pembangkit konvensional, meski produksi listrik tenaga surya dan angin meningkat.
Pembangkit listrik tenaga batu bara diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung utama pasokan daya komersial di Asia pada tahun 2025.
Pemanfaatan gas alam yang menyumbang 10 persen pasokan listrik Asia mengalami perlambatan akibat fluktuasi harga global dan ketidakpastian rantai pasok.
>>> Maree Mart Manfaatkan Teknologi Digital untuk Kembangkan Ritel Modern
Situasi geopolitik global, termasuk konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran serta gangguan jalur pengiriman di Selat Hormuz, turut memperburuk volatilitas pasar energi komersial saat ini.
