Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdikgi) Boni Pudjianto mengajak guru dan orang tua untuk aktif mendampingi anak di ruang siber.
Hal ini penting untuk menghadapi ancaman hoaks, penipuan, hingga manipulasi konten berbasis kecerdasan artifisial (AI).
>>> Bumi Resources Gelar RUPS pada Juni 2026 untuk Sahkan Laba
Pernyataan itu disampaikan dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/5/2026).
Guru sebagai Garda Terdepan
Boni menekankan bahwa peningkatan kompetensi pendidik menjadi krusial. Guru berada di garda terdepan untuk memproteksi generasi muda dari bahaya digital.
"Bapak/Ibu guru harus membagikan kepada anak didik mengenai bagaimana kita bisa membedakan hal-hal positif dan negatif, khususnya informasi yang tidak benar," ujar Boni.
>>> Pemerintah Tetapkan Libur Iduladha 1447 H dan Cuti Bersama Mei 2026
Peran tenaga pendidik kini bergeser menjadi pemegang kunci strategis pembentukan karakter anak. Mereka tidak lagi sekadar penyampai ilmu pengetahuan di kelas.
Budaya digital yang sehat, etis, dan bertanggung jawab diharapkan terbangun melalui pendampingan intensif. Tujuannya mewujudkan ruang digital yang aman serta inklusif.
"Inklusivitas bukan hanya menghadirkan konektivitas atau akses, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berekspresi, dan terlindungi di ruang digital," tegasnya.
>>> 4 Rekomendasi Facial Wash Pria untuk Mencerahkan Kulit Wajah
Penyelarasan antara perlindungan anak dan transformasi digital harus berjalan beriringan. Hal ini untuk menjaga nilai empati serta kesetaraan.
Langkah mitigasi mendesak dilakukan menyusul maraknya durasi penggunaan gawai pada anak dan remaja. Data lanskap digital nasional menunjukkan tingkat literasi digital belum memadai.
Kemudahan akses teknologi Generative AI memicu perluasan sebaran disinformasi dan konten deepfake.
>>> Dokter Ingatkan Bahaya Lonjakan Kolesterol Tanpa Gejala Saat Idul Adha
Tanpa bimbingan kritis orang dewasa, anak-anak berisiko tinggi menjadi korban manipulasi informasi, perundungan siber, serta kejahatan siber.