⌂ Beranda News Studi Ungkap Bayi 15 Bulan Mampu Rasakan Emosi Marah dan Sedih Orang Tua

Studi Ungkap Bayi 15 Bulan Mampu Rasakan Emosi Marah dan Sedih Orang Tua

Studi Ungkap Bayi 15 Bulan Mampu Rasakan Emosi Marah dan Sedih Orang Tua
Bayi dan orang tua berinteraksi
A A Ukuran Teks16px

Bayi ternyata sudah memiliki kemampuan untuk merasakan perubahan emosi orang tua, termasuk saat merasa marah atau sedih.

Kemampuan ini tetap ada meskipun secara kasat mata anak usia dini terlihat belum memahami situasi di sekitarnya.

>>> Kemenpar Tata Ekosistem Digital Pariwisata Lewat Verifikasi API

Dua penelitian berbeda pada tahun 2016 mengungkapkan hasil serupa mengenai hal ini.

Hasil studi menunjukkan bahwa bayi dapat mengingat kemarahan orang dewasa serta mampu mengidentifikasi apakah seseorang memiliki sifat mudah marah.

Respons adaptif ini membuat bayi cenderung berupaya mengubah perilaku mereka demi menyenangkan orang dewasa tersebut.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa bayi akan melakukan apa pun yang mereka bisa agar tidak menjadi sasaran kemarahan," ungkap Betty Repacholi, PhD, peneliti dari University of Washington's Institute for Learning & Brain Sciences.

"Di usia yang sangat muda ini, mereka sudah menemukan cara untuk tetap aman. Ini adalah respons yang cerdas dan adaptif," tambahnya.

Eksperimen Mengamati Reaksi Bayi

Tim peneliti melibatkan ratusan bayi berusia 15 bulan dalam dua eksperimen terpisah.

Eksperimen pertama bertujuan mengamati reaksi anak saat dihadapkan pada kemarahan orang dewasa yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Dalam pengujian tersebut, anak duduk di pangkuan orang tua sementara seorang Eksperimenter memainkan beberapa mainan di seberang meja.

Selanjutnya, seorang Emoter akan memberikan reaksi secara netral atau menunjukkan ekspresi marah dan kesal.

>>> Kolam Renang Olimpiade North Sydney Dibuka Kembali 7 Agustus 2026

Ketika bayi diberikan kesempatan untuk memainkan mainan tersebut, mereka cenderung menghindari mainan yang sebelumnya memicu reaksi negatif dari Emoter.

Anak-anak juga tidak mau meniru cara bermain yang telah diperlihatkan sebelumnya, berbeda ketika menghadapi Emoter bereaksi netral.

Bahkan, ketika Emoter mencoba bersikap netral pada sesi bermain kedua menggunakan mainan yang sama, bayi tetap menunjukkan penolakan.

"Seolah-olah bayi tidak percaya bahwa Emoter sekarang sudah tenang. Begitu bayi mendeteksi bahwa seseorang mudah marah, sulit bagi mereka untuk mengabaikannya.

Mereka tidak mau mengambil risiko meskipun situasinya tampak sudah berubah," kata Repacholi.

Selain mendeteksi kemarahan, bayi juga mulai memahami emosi lain seperti kesedihan. Para peneliti meyakini anak-anak sudah mampu membedakan berbagai jenis ekspresi pada wajah manusia sejak dini.

"Apa yang baru mulai kami pahami adalah seberapa banyak mereka mengerti tentang makna dari emosi tersebut," kata Sabrina Chiarella, peneliti perkembangan manusia di Concordia University, kepada NPR.

Peneliti perkembangan anak di University of Minnesota, Melissa Koenig, menambahkan bahwa temuan ini membuktikan bayi mempunyai pemahaman emosi yang jauh lebih kompleks daripada dugaan para ilmuwan sebelumnya.

"Dulu kami berpikir bahwa bayi hanya melihat orang lain untuk mendapatkan dukungan emosional dan rasa aman.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru