Para ilmuwan Inggris menyatakan bahwa bukti nyata mengenai dampak negatif perangkat digital terhadap otak anak masih sangat minim.
Pernyataan ini disampaikan dalam sidang Komite Sains, Inovasi, dan Teknologi Parlemen Inggris.
>>> Alwi Farhan Juarai Australia Open 2026, Regenerasi Pebulu Tangkis Muda Terbukti
Anggota parlemen tengah menyelidiki apakah kekhawatiran publik selama ini didukung oleh bukti ilmiah.
Direktur Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London, Profesor Denis Mareschal, memaparkan bahwa riset yang membuktikan hubungan sebab-akibat antara gawai dan perkembangan otak anak masih sangat terbatas.
Menurutnya, mayoritas kajian saat ini baru sebatas menunjukkan korelasi.
Penelitian hanya menemukan bahwa anak yang aktif menggunakan perangkat digital memiliki karakteristik tertentu, tetapi belum dapat memastikan gawai sebagai penyebab utamanya.
Pandangan senada diutarakan oleh Profesor Sarah-Jayne Blakemore dari University of Cambridge.
Ia menilai data mengenai efek ponsel pintar atau media sosial terhadap otak remaja masih sangat sedikit dan mayoritas berasal dari studi berskala kecil yang belum diuji secara luas.
Walau begitu, para peneliti tidak sepenuhnya mengabaikan kecemasan yang berkembang di tengah masyarakat. Blakemore menerangkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial bagi perkembangan otak.
Pada periode ini, sistem penghargaan berjalan sangat aktif, sedangkan area pengontrol impuls dan pengambilan keputusan atau prefrontal cortex masih berkembang.
>>> Kemendikdasmen Dorong Pemda Libatkan Sekolah Swasta Unggul dalam SPMB 2026
Kondisi biologis tersebut memicu remaja lebih mudah mencari stimulasi yang instan dan menyenangkan, termasuk melalui aplikasi digital dan media sosial.
"Bahkan orang dewasa sering kesulitan meletakkan ponsel ketika terus menemukan konten menarik.
Bagi anak-anak dan remaja, tantangannya bisa lebih besar karena kemampuan pengendalian dirinya masih berkembang," jelasnya dikutip dari The Register.
Di sisi lain, Dr Dusana Dorjee dari University of York melihat ada problem lain yang jauh lebih mendesak, yaitu tergesernya aktivitas penting akibat durasi menatap layar yang berlebihan.
Dorjee berpendapat bahwa anak-anak menyerap ragam keterampilan penting lewat interaksi tatap muka, bermain, berolahraga, berdiskusi dengan keluarga, hingga menjelajah lingkungan sekitar.
Berbagai agenda ini berisiko terpangkas jika waktu mereka habis di depan layar.
"Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital, tetapi apa yang tidak mereka lakukan karena menggunakan perangkat tersebut," ujarnya.
>>> IDAI Nilai Tuntutan Hukum Dokter Ratna Bentuk Kriminalisasi Medis
Para pakar turut menggarisbawahi bahwa setiap aktivitas di depan layar memiliki dampak yang berlainan.
Panggilan video dengan kerabat, penggunaan aplikasi edukasi, atau belajar daring tidak dapat disamakan dengan aktivitas menggulirkan layar tanpa henti akibat algoritma media sosial.
Oleh karena itu, tim ahli menolak opsi yang menyamaratakan semua penggunaan ponsel pintar sebagai aktivitas yang membahayakan anak.
Kebijakan Pemerintah Terkait Penggunaan Ponsel
Polemik mengenai pembatasan ponsel pintar pada anak kini sedang bergulir hangat di Inggris. Pemerintah setempat bahkan mengadakan konsultasi nasional mengenai pemakaian media sosial dan gawai oleh anak-anak.
Pemerintah Inggris mengakui bukti ilmiah seputar efek durasi layar terhadap kesehatan mental dan tumbuh kembang anak masih bervariasi serta terus berkembang.
Sejumlah peneliti pun meminta agar negara tidak terburu-buru menetapkan aturan ekstrem berupa larangan total.
Akademisi dari University of Cambridge, Amy Orben, sebelumnya mengingatkan bahwa data ilmiah yang ada belum memadai untuk menyimpulkan bahwa ponsel pintar secara inheren berbahaya bagi semua anak.
Sidang tersebut menyimpulkan secara tegas bahwa belum ada bukti kausal yang kuat mengenai ponsel pintar yang merusak otak anak secara langsung.
>>> Suzuki XL7 Alpha Hybrid Tawarkan Fitur Premium Mulai Rp304 Juta
Meski demikian, kontrol berkala tetap dibutuhkan agar anak tidak kehilangan waktu berinteraksi, berolahraga, dan bermain.