S&P 500 (SPY) saat ini diperdagangkan pada rasio P/E forward 21x, sementara imbal hasil riil obligasi Treasury yang dilindungi inflasi (TIPS) bertenor 10 tahun telah naik ke 2,18%.
Kondisi ini menciptakan tekanan tingkat diskonto pada aset berdurasi panjang dan saham growth.
>>> Pasar Obligasi Beri Sinyal The Fed Perlu Naikkan Suku Bunga
Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve telah berbalik drastis. Tiga bulan lalu, pasar memperkirakan akan ada 2-3 kali pemotongan suku bunga.
Kini, kurva berjangka justru mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga kumulatif sekitar 30 basis poin hingga tahun 2027.
Penyebab Perubahan Regim Suku Bunga
Ada empat faktor utama yang mendorong perubahan ini. Pertama, tekanan inflasi dari sumber baru.
Tarif minyak dan permintaan siklus AI mendorong harga naik, yang sulit diimbangi oleh kebijakan Fed.
>>> Juri Texas Beri Putusan $49 Juta dalam Gugatan Kecelakaan Truk Maut
S&P Global mencatat bahwa kenaikan tekanan harga mendorong para pejabat Fed untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna mendinginkan inflasi.
Kedua, ketahanan aset berisiko. Ekuitas tidak merespons sesuai teori bahwa imbal hasil riil tinggi seharusnya menekan kelipatan valuasi.
ETF pelacak S&P 500 mencatat kenaikan signifikan tahun ini, sehingga Fed memiliki lebih sedikit alasan untuk mengubah kebijakan.
>>> 10 Buku Terbaik Jilly Cooper: Dari Riders hingga Rivals
Ketiga, premi fiskal. Investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.
Selisih imbal hasil antara obligasi 10 tahun dan 30 tahun, serta antara 5 tahun dan 30 tahun, menunjukkan pasar obligasi sedang memberi harga pada defisit anggaran.
Keempat, imbal hasil Treasury naik.
Obligasi 10 tahun berada di 4,56% dan 30 tahun di 5,06%, setelah lonjakan pada 19 Mei yang mendorong imbal hasil 10 tahun ke 4,67%.
>>> Julius Baer Proyeksikan Laba Semester I Lebih Tinggi Seiring Aset Meningkat
Imbal hasil riil TIPS 10 tahun naik dari 1,91% pada 1 Mei menjadi 2,18%, menandakan pengetatan kondisi keuangan secara riil.