Saham Coinbase Global, bursa kripto terbesar di Amerika Serikat, mengalami penurunan signifikan sejak bergabung dengan indeks S&P 500.
Harga saham perusahaan yang terdaftar di Nasdaq dengan kode COIN itu ambles lebih dari 25 persen dalam satu tahun.
>>> Blue Bell Luncurkan Es Krim Black Raspberry Fudge Edisi Terbatas
Pada 19 Mei 2025, saat pertama kali masuk indeks, saham Coinbase dibuka di harga $259,78. Tepat setahun kemudian, 18 Mei 2026, saham ditutup di $189,44.
Ini menjadi kerugian besar bagi investor yang membeli saat momen bersejarah tersebut.
Sebelumnya, saham Coinbase sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di $444,65 pada 18 Juli 2025. Antusiasme masuknya ke indeks berbasis teknologi itu mendorong harga ke level puncak.
Namun, momentum positif itu terhenti akibat flash crash pada 10 Oktober 2025.
>>> Netflix Resmi Akhiri Emily in Paris Setelah Musim Keenam
Peristiwa itu menghantam seluruh lanskap mata uang digital dan membuat harga saham Coinbase jatuh dari atas level $400.
Saham kesulitan pulih setelah crash Oktober.
Valuasi menunjukkan harga sempat menyentuh titik terendah di $139,36 pada 12 Februari 2026, sebelum stabil di kisaran $190.
Pada perdagangan pramarket 21 Mei 2026, COIN diperdagangkan di $190,15.
>>> Zambia and Angola Cut Benchmark Interest Rates to Stimulate Economic Growth
Diversifikasi dan Pendapatan Inti
Selain platform perdagangan tradisional yang didirikan Brian Armstrong dan Fred Ehrsam pada 2012, Coinbase telah berekspansi ke pasar prediksi.
Langkah ini untuk mendiversifikasi portofolio bisnisnya.
Sektor stablecoin menjadi pilar vital bagi keberlanjutan finansial perusahaan. Sektor ini menghasilkan sebagian besar total pendapatan Coinbase.
Berkat posisi strategis itu, Coinbase tetap menjadi pemangku kepentingan utama dalam diskusi seputar CLARITY Act.
>>> ETF CHAT Tantang Prediksi Triliuner di Tengah Pertumbuhan AI Generatif
Undang-undang itu menyangkut ketentuan imbalan stablecoin yang kontroversial, yang memicu perdebatan antara perbankan tradisional dan sektor kripto.