Belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat diperkirakan mendekati USD1 triliun per tahun, setara sekitar Rp17.900 triliun dengan kurs ilustrasi Rp17.900 per USD.
Namun, ekspansi pusat data AI menghadapi hambatan politik berupa penolakan warga dan pembatasan di sejumlah negara bagian.
Ekonom Columbia Business School Stijn Van Nieuwerburgh memperkirakan belanja tahunan tersebut mendekati USD1 triliun.
Menurut ekonom ING, investasi AI menyumbang hingga seperempat pertumbuhan ekonomi AS tahun ini.
Moratorium dan Pembatasan di Negara Bagian
Analisis David Goldman di CNN mengutip Goldman Sachs bahwa mulai Januari, negara bagian pimpinan Demokrat yang mendukung perluasan moratorium mencakup 45 persen kapasitas pusat data yang direncanakan.
Angka itu tidak berarti seluruh proyek di wilayah tersebut otomatis dihentikan.
Texas menampung seperempat rencana pembangunan infrastruktur AI AS.
Gubernur terpilih Gina Hinojosa berkampanye memperpanjang moratorium pendahulunya, Greg Abbott, sampai tersedia aturan lebih kuat.
Pemerintah Texas sebelumnya mengumumkan penghentian perizinan pusat data sambil menunggu audit kelistrikan.
Demokrat juga merebut kursi gubernur di Nevada, Georgia, dan Ohio.
Usulan pembatasan mencakup penghentian insentif pajak, pengetatan ketentuan iklim dan listrik, serta kewenangan moratorium pemerintah lokal.

