Ambisi OpenAI menuju penawaran saham perdana (IPO) pada 2027 kembali menjadi sorotan. Mantan karyawan dan peneliti menilai perusahaan lebih mengutamakan kecepatan inovasi bisnis ketimbang keamanan data.
Temuan alat perekam suara tersembunyi di dalam gulungan tisu toilet ruang rapat eksekutif OpenAI pada Oktober 2026 disebut tidak mengejutkan bagi sejumlah mantan karyawan.
Mereka mengaku sudah memperingatkan bahaya tersebut sejak lama.
Keamanan Jadi Tumbal Pengejaran Valuasi
Sejak peluncuran ChatGPT pada akhir 2022, manajemen OpenAI dituding hanya fokus mengejar kompetitor seperti Google dan Anthropic.
Menjelang IPO 2027, OpenAI disebut meraup pendapatan tahunan Rp895 triliun (USD50 miliar) per akhir September 2026.
Angka itu disebut meleset dari rumor awal yang mencapai Rp1.217,2 triliun (USD68 miliar). Demi mengejar valuasi, keamanan dinilai menjadi tumbal.
Mantan peneliti OpenAI, Will DePue, yang mundur pada April 2026, menyimpulkan realitas tersebut. "Pemimpin AI tidak bisa mengorbankan kecepatan demi keamanan.
Bagi mereka, bergerak cepat jauh lebih penting daripada aman, bahkan dari musuh nasional terbesar kita sekalipun," kata DePue.
Puncak kelengahan terjadi pada 13 Oktober 2026. Agen federal AS menangkap Abdulrahman Alfozan (35), mantan insinyur OpenAI asal Arab Saudi.
Ia didakwa memasang alat sadap dan mengeksploitasi alat AI internal demi melacak jadwal petinggi OpenAI dengan menteri Saudi.
Beberapa hari sebelumnya, 9 Oktober 2026, OpenAI memecat tiga peneliti keselamatan: Jasmine Wang, Tomek Korbak, dan Mikita Balesni.
Pemecatan terjadi usai ketiganya menyurati dewan direksi soal iklim ketakutan di perusahaan.
"Kami khawatir komunikasi internal dan eksternal seputar pemecatan kami membuat mantan rekan kerja takut untuk berbicara dan beroperasi dengan cara yang, hingga pekan lalu, merupakan bagian integral dari bekerja di OpenAI," keluh mereka.
OpenAI membantah tudingan anti-kritik.
Perusahaan menyebut ketiganya melakukan "pelanggaran kepercayaan yang signifikan" atas aturan penanganan informasi sensitif, dan mengklaim tetap berkomitmen memantau model AI frontier.
Kelemahan sistemik OpenAI disebut bersumber dari kultur riset terbuka. Mayoritas kode disimpan di satu repositori raksasa (monorepo) serta tersebar di GitHub dan Slack.
Pada 2023, mantan peneliti Leopold Aschenbrenner telah merilis memo bertajuk "OpenAI adalah lab AI terkemuka China", menyoroti betapa rentannya sistem mereka disusupi.
Juru bicara OpenAI, Elana Widmann, menolak tudingan kelalaian tersebut.
"Melindungi teknologi, data, dan karyawan kami adalah tanggung jawab yang kami jalankan dengan serius dan merupakan masalah kepentingan nasional," tegas Widmann.
"Tindakan yang kami ambil baru-baru ini menunjukkan program bekerja: mengidentifikasi risiko dan merespons dengan tegas."
Rangkaian insiden keamanan sepanjang Juli-Oktober 2026 memperlihatkan pola yang berulang. Pada Juli 2026, agen uji coba AI OpenAI secara tak terduga meretas perusahaan startup Hugging Face.
Pada bulan yang sama, tiga peneliti cybersecurity dari Hacktron AI memakai model milik Anthropic untuk menembus monorepo OpenAI lewat peretasan akun ChatGPT karyawan.
Agustus 2026, eksekutif Thibault "Tibo" Sottiaux terpaksa memindahkan 25 persen insinyur produksinya khusus untuk menambal infrastruktur keamanan.
September 2026, bos OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan regulasi AI global. Seruan ini ditolak Presiden AS Donald Trump yang menyebut ketakutan AI sebagai "hoaks".
Oktober 2026, celah serupa menimpa pesaingnya. Startup Cathedral Systems meretas sistem Anthropic dan mengakses saluran Slack berisi detail model.
Pada Oktober 2026 pula, OpenAI akhirnya merekrut Dane Stuckey sebagai Chief Information Security Officer (CISO) untuk mengaudit alat pengujian internal (sandbox) yang selama ini beroperasi tanpa pengawasan keamanan rutin.

