Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) melaporkan bahwa subsidi industri berskala besar dari pemerintah China telah memicu distorsi merugikan yang membentuk ulang perekonomian global.
Laporan tersebut dirilis pada Senin (1/6/2026).
Lonjakan bantuan pemerintah untuk kelompok manufaktur di 15 sektor utama pada tahun 2023 dan 2024 telah menyamai level krisis keuangan global.
Hal ini diungkapkan dalam laporan yang dikutip dari Bloombergtechnoz.
Perusahaan-perusahaan di China tercatat menerima dukungan finansial tiga hingga delapan kali lebih besar dibandingkan perusahaan di negara anggota OECD.
Bahkan, dukungan tersebut jauh melampaui negara nonanggota seperti Brasil dan India.
Tindakan Beijing tersebut memicu ketegangan perdagangan serta penerapan tarif oleh berbagai kekuatan ekonomi dunia. Ketidaksetaraan persaingan pada industri global, termasuk sektor otomotif, menjadi perhatian utama.
Kurangnya transparansi dan laporan yang tidak lengkap kepada World Trade Organization (WTO) membuat perdebatan mengenai subsidi ini menjadi kabur selama bertahun-tahun.
Berdasarkan laporan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) tahun 2025, China belum menyerahkan pemberitahuan lengkap mengenai subsidi pemerintah pusat sejak bergabung dengan WTO lebih dari dua dekade lalu.
Subsidi Capai US$108 Miliar pada 2024
Melalui kajian dokumen perusahaan terkait hibah, keringanan pajak, dan pinjaman berbunga rendah, OECD mencatat total subsidi industri mencapai US$108 miliar pada tahun 2024.
Sektor peralatan energi terbarukan, industri berat, dan semikonduktor menjadi penerima dukungan terbesar.
Rata-rata subsidi semikonduktor China mencapai hampir 10% dari pendapatan perusahaan pada 2021 dan 2022.
Sebagai perbandingan, rata-rata subsidi global untuk industri semikonduktor hanya sedikit di atas angka 2% pada periode yang sama.
"Subsidi industri meningkat di seluruh dunia, tetapi selama beberapa dekade kita tidak memiliki gambaran yang andal, komprehensif, dan dapat dibandingkan mengenai apa yang sebenarnya diberikan pemerintah dan apa yang sebenarnya diterima perusahaan," kata Mathias Cormann, Sekretaris Jenderal OECD.
Penilaian tersebut disampaikan dalam sebuah presentasi di Paris.
"Subsidi bukan hanya persoalan fiskal, tetapi juga sedang membentuk ulang pasar global," tambah Cormann.
