Minggu, 26 Mei 2019

Pengurus HMI Komisariat Janabadra Periode 2019-2020 Resmi Dilantik
Foto bersama seusai pelantikan pengurus HMI Komisariat Janabadra periode 2019-2020 (Foto: HMI UJB)
SINERGIANEWS.COM, Yogyakarta - HMI Komisariat Janabadra Cabang Yogyakarta menggelar prosesi Pelantikan dan Serah Terima Jabatan di ruang II.3 lantai 2 Kampus Fakultas Hukum Universitas Janabadra, Jum’at (24/5/2019). Acara tersebut menandakan berakhirnya masa kepengurusan HMI Komisariat Janabadra periode 2018-2019 yang dipimpin oleh Ilham Singgih Prakoso, S.H. Mulainya masa kepengurusan periode 2019-2020 yang baru dipimpin oleh Raiza Rana Viola Riady.

Proses ini bukanlah proses yang instan, tentu saja melalui tahap yang panjang yakni melalui jalur RAK (Rapat Anggota Komisariat). Mulai dari masa pembahasan tata tertib, dilanjutkan laporan pertanggungjawaban, pembahasan sidang komisi hingga pemilihan formateur/ketua umum periode 2019/2020. Selain itu, menandai bahwa estafet kepengurusan HMI Komisariat Janabadra akan menjadi arah yang baru kedepannya.

Tema yang diusung saat pelantikan yakni “Membangun Kesadaran Berorganisasi Melalui Semangat Pengetahuan Demi Mempertahankan Nilai-Nilai Ke-HMI-an”. Dilantiknya tujuh orang pengurus oleh Formateur/Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta, maka perjalanan HMI Komisariat Janabadra akan kembali dimulai. Artinya perjuangan harus tetap lanjut, tidak mengenal dengan batas, karena proses inilah yang mengantarkan kita pada titik kedewasaan.

Ketua umum Raiza Rana Viola Riady menyampaikan beberapa poin dan catatan dalam kata sambutannya, bahwa banyak atau tidaknya pengurus bukan sebagai jaminan organisasi tersebut akan berjalan sesuai rule organisasi dan tetap kokoh. Namun, hasil dari kepengurusan itulah yang akan menjadi tolak ukur dari semua itu.

"Kita sebagai kaum intelegensia harus tetap menjaga nalar kritis, tidak boleh menjadi mahasiswa yang hanya mengadu nasib dan pasrah terhadap kebijakan yang dibuat oleh birokrasi pemerintahan. Sudah saatnya kita menjadi kaum yang mengawal kebijakan tersebut, tidak hanya sibuk dengan perkuliahan maupun forum pengkaderan namun juga proaktif terhadap isu-isu yang hadir di sekeliling kita,” terang Ejak sapaan akrabnya.

Sejatinya, bahwa kita semua adalah mahasiswa yang nantinya akan menjadi generasi pelurus bukan penerus, meluruskan apa yang menyimpang bukan meneruskan hal tersebut,” imbuhnya.

Mahasiswa Fakultas Hukun Universitas Janabadra ini juga mempertegas bahwa pengetahuan itu menjadi acuan dasar dalam berkata maupun bertindak, bagaimana seorang mahasiswa yang tidak dibekali dengan kemampuan pengetahuan untuk melakukan sebuah rencana yang besar, maka sejatinya kader HMI harus sering membaca dan berdiskusi.

Hari ini kita selalu bangga dengan sejarah angkatan 66 maupun 98. Ternyata, kita semua terjebak pada sejarah besar itu, ternyata sejarah itu bukan membuat kita sadar namun membuat kita semakin apatis dan pragmatis,” pungkas Ejak.

“Kejadian di akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan dari kalangan masyarakat umum, saat ini mahasiswa sedang berada dimana, kenapa tidak lagi berani menyuarakan suara kebenaran. Sadar atau tidaknya kita saat ini, HMI sudah jarang muncul di permukaan. Seharusnya HMI menjadi garda terdepan dalam melakukan pembacaan, bukan sibuk dalam urusan internal,” tambah Ejak.

Ketua Bidang PSDM IKPM Sumsel Yogyakarta ini menyampaikan bahwa HMI tidak besar begitu saja, pastinya melalui proses dan dinamika yang panjang, kita sebagai kader HMI sepatutnya tetap menjaga nama itu besar dengan kegiatan-kegiatan yang bersubtansi.

“Bukan hanya sekedar memunculkan eksistensi, HMI itu tidak lagi membutuhkan eksistensi, karena nama yang besar seharusnya kita kembali ke jalur yang benar yaitu menjadi kaum progresif revolusioner membawa angin segar bagi masyarakat dan umat secara keseluruhan. Tetap memberikan sumbangsi pemikiran serta perencanaan yang mengedepankan kepentingan umat, bangsa dan Negara,” tandas Ejak. (Ejk)

Minggu, 30 Desember 2018

Mengusung Visi Civilized Organisation: Afraval Terpilih Sebagai Formateur HMI Cabang Yogyakarta periode 2018-2019
Foto: Doc. Net

SINERGIANEWS.COM - Yogyakarta, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta menggelar Konferensi Cabang (KONFERCAB) LXI. Agenda tersebut berakhir pada hari Rabu pagi (16/12). Konfercab kali ini berjalan dengan dinamika sengit, terlebih di dalamnya ada perlehetan demokrasi yaitu pemilihan Ketua Umum baru.

Dengan mengangkat tema besar “Revitalisasi  Gerakan HMI dalam Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0,” agenda tersebut kerap adu ide dan gagasan sehingga konfercab yang  LXI inipun berjalan cukup lama.

“Kami mengangkat tema tersebut, karena kami sadar perkembangan teknologi sangat pesat, kami ingin HMI Cabang Yogyakarta tidak ketinggalan kereta, tidak gaptek,  dan harus bersikap lebih bijak di era revolusi industri 4.0 ini, terlebih sekarang dampaknya menjalar ke semua lini kehidupan manusia,” ujar Elfi Suharni, Demisioner Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta periode 2017-2018.

Konfercab tersebut berlangsung di Gedung Pusat Kebudayaan Lafran Pane Kantor HMI Cabang Yogyakarta, Umbulharjo, Yogyakarta. Dalam pemilihan formateur, ada dua orang yang maju sebagai bakal calon yaitu saudara Afraval Saipedra dan Indra Sanjaya.

Bakal calon tersebut sama-sama memiliki pendukung  yang banyak, akan tetapi saudara Indra sanjaya tidak berkenan untuk melanjut ke tahap berikutnya dikarenakan beberapa hal. Maka secara aklamasi saudara Afraval Saipedra terpilih sebagai formateur HMI Cabang Yogyakarta periode 2018-2019.

Dalam masa pemaparan visi-misi, Afraval menyampaikan visi dan misinya yaitu HMI Cabang Yogyakarta menuju Civilized Organisation  dan misinya antara lain memajukan perkaderan di HMI Cabang Yogyakarta, mengintegrasikan seluruh unsur di lingkup HMI Cabang Yogyakarta, serta meningkatkan profesionalitas kader.

Selanjutnya sesi dialog dengan peserta sidang, yang dalam forum terakhir tersebut telah diikuti oleh 50%+1 peserta penuh delegasi komisariat.

Reporter: Adhitya Walenna
Editor: Nur Muhammad

Rabu, 26 Desember 2018

Turbulensi Perkaderan HMI Cabang Yogyakarta

Tampak Kantor HMI Cabang Yogyakarta (Gedung Pusat Kebudayaan Lafran Pane) yang jarang ditempati (Foto: Doc. Sinergia)
Organisasi mahasiswa diyakini sebagi tempat penggemblengan dan penumbuhan kesadaran kritis angkatan muda. Bagaimana tidak, fakta historis dimasa lalu telah memperlihatkan kepada kita semua, ketika ketidakadilan sosial muncul, eksploitasi rakyat terjadi dan kekerasan srtuktural mulai terasa, generasi muda Indonesia yang memelopori suatu gerakan perubahan. Kondisi Indonesia pra kemerdekaan saat masih dalam genggaman kolonialisme, segera bermunculan kaum muda berjiwa satria, yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bung Karno, bung Hatta, Tan Malaka, Semaoen, Syahrir dan terlampau banyak golongan muda yang saat itu siap mengembalikan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa berdaulat Arbi Sanit menyebut mahasiswa sejatinya adalah panglima, konteks itu diambil saat rezim tirani berkuasa kembali di Indonesia. Gologan muda menjadi bintang lapangan sesungguhnya, diandaikan Arbi Sanit tanpa pergerakan dan aksi mahasiswa, soeharto mungkin masih berkuasa, saat itu kelompok oposisi yang ada, Gus Dur, Megawati, Amien Rais serta yang lainnya, tidak cukup kuat untuk menumbangkan Soeharto tanpa keterlibatan mahasiswa.

Namun peran organisasi mahasiswa saat ini kurang nyata dan tidak terlihat lagi fungsinya dalam masyarakat, dari kesan tersebut mahasiswa sebagai Agent of Change seakan hanya menjadi mitos dalam setiap benak masyarakat. Salah satu organsasi mahasiswa yang cukup tua dan melalang buana dalam panggung kesadaran bangsa Indonesia adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yang akan penulis soroti adalah, salah satu cabang HMI, yaitu HMI Cabang Yogyakarta. Kenapa harus HMI Cabang Yogyakarta? karena HMI Cabang Yogyakarta punya nilai historis yang cukup penting, bukan bermaksud melakukan sakralisasi, penulis berkeyakinan setiap cabang pasti punya pemaknaan historis masing-masing. Akan tetapi historitas nilai HMI Cabang Yogyakarta bisa kita temukan dalam buku-buku sejarah HMI, mulai dari sejarah terbentuknya HMI di Yogyakarta, bahkan banyak tokoh-tokoh besar HMI yang muncul dari Yogyakarta.

Regenerasi estafeta kepemimpinan HMI Cabang Yogyakarta terus berlanjut hingga hari ini  dan sekarang dinakhkodai oleh saudari Elfi Suharni. Sejak dilantik pada pertengahan Agustus, tepatnya 19 Agustus 2017 tahun lalu. Hampir tidak ada agenda perkaderan yang mampu membangkitkan kesadaran kritis kader, agenda yang adapun hanya sekedar banalitas-formalitas semu tanpa esensi, mulai dari agenda diskusi yang hanya untuk laporan seadaanya  saja, agenda LKK yang amburadul hingga konfercab yang tidak kunjung selesai (in-konstisional). Saudari Elfi hampir dalam setiap sambutan Latihan kader (LK) I Komisariat, selalu mengibaratkan HMI umpama rumah atau bangunan, megah, elok dan bagus, namun rusaknya bangunan akan ditentukan oleh kader yang menempati bangunan tersebut. Andaikan tulisan ini dibaca oleh saudari Elfi, penulis ingin mengutarakan bahwa rumah HMI Cabang Yogyakarta sudah lama reok, pondasinya rapuh, halamanya kotor, dinding  keropos, tangganya lapuk, dan ruangannya berbau busuk.

Rumah HMI Cabang Yogyakarta kurang pantas, cocok dan indah lagi bagi kader untuk menggemblengkan diri, karena memunculkan kesadaran kritis kader ternyata sangat memerlukan suasana serta lingkungan yang dapat mendukung penumbuhan kesadaran kritis tersebut. Setiap kader yang telah berhimpun dalam organisasi HMI sejatinya punya hak dan kewajiban. Hak setiap kader untuk berdinamika serta berproses secara dialektis dalam mewujudakan kualitas insan cita HMI, sangat terlihat jelas HMI Cabang Yogyakarta tanpa adanya suatu keinginan untuk membentuk dan membina perkaderan guna menciptakan cita-cita, harapan, optimisme serta keyakinan yang manusiawi bagi  kader.

Pragmatism dan euphoria kejayaan masa lalu
HMI Cabang Yogyakarta tidak mampu lagi memelopori sebuah gerakan/action pemikiran yang berusaha mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Kondisi ini terjadi dikarena dua persoalan mendasar yang muncul yaitu seiring terjerumus perkaderan HMI Cabang Yogyakarta dalam pola pikir pragmatis, hal ini terjadi karena hilangnya fungsi ideologis HMI, gejala pragmatisme perkaderan cenderung mengutamakan, mengedepankan serta orientasi tujuan semata tanpa pernah memperhatikan nilai, isi dan subtansi perkaderan.

Pragmatism perkaderan terjadi dalam jenjang perkaderan LK 1, LK 2, SC DAN LK 3, tolak ukurnya sederhana, yang dipakai penulis adalah kualitas kader yang telah mengikuti masing-masing jenjang training tidak mengalami perubahan signifikan, harapan sederhana penulis setiap kader setelah mengikuti traning, semakin bertambah dan menguatnya minat baca buku, gandrung akan diskusi serta menulis, tapi fakta menuliskan konteks yang sangat jauh berbeda dari harapan penulis. Sehingga akan semakin jauh dan terjal jalan yang harus dilalui untuk mewujudkan masyarakat adil makmur. Hal yang harus diusahakan Bersama oleh setiap kader untuk lebih  mengedepankan nilai atau subtansi daripada sekedar formalitas-ceremonial.

Selain itu HMI sering terjebak dalam euphoria kejayaan masa lalu. Sejak terbentuknya HMI pada 5 Februari 1947, HMI telah turut mewarnai ruang publik Indonesia pada semua sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, sosial dan budaya, kegemilangan dan prestasi telah diciptakan dan diraih oleh kader HMI dimasa lalu, sejarah kejayaan HMI masa lalu sangat bisa dijadikan sebagai motivasi untuk mengulang bahkan melampui sejarah masa lalu. Namun, sejarah kejayaan HMI hanya dijadikan cerita dan pembahas diskusi kader diwarung kopi tanpa adanya keingingan untuk melampauinya.

Terlampaui sering diadakan seminar napak tilas perjuangan HMI, tapi setelah acara selesai seakan tidak ada wujud kesadaran baru yang tertanam dalam pikiran, dan tetap masih mempertahankan pola hidup apatis, kedua hal inilah yang harus kita dobrak, hilangkan dan hapus dari perkaderan HMI Cabang Yogyakarta. Jika pola pragmatism dan kenangan masa lalu masih terus menggejala dan dipakai dalam pola perkaderan HMI Cabang Yogyakarta, tentunya alangkah lebih baik dan lebih utama lagi untuk segera membubarkan dan menghancurkannya saja, karena apabila terus bertahan justru akan semakin merusak dan membahayakan angkatan muda Indonesia. Kader HMI hanya akan kehilangan potensinya untuk mencipta pengetahuan, jangan biarkan pembodohan terjadi di perkaderan HMI.

Optimisme Baru Perkaderan HMI
HMI Cabang Yogyakarta saat masih melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab) dan sebentar lagi akan muncul wajah serta sosok pemimpin baru yang akan mewarisi kebobrokan, kemandekan dan kepongahan periode sebelumnya. Sosok inilah dengan optimisme baru akan mendobrak dan menghamtam kemandekan HMI Cabang Yogyakarta, harapan penulis jika sosok baru ini memang punya keinginan dan ikhtikar baik dalam perkaderan, tentu sangat banyak renovasi yang harus dilakukan, sangat banyak penyakit perkaderan yang perlu diobati, dan sangat banyak hutang perkaderan yang harus dilunasi. Setelah agenda pembersihan besar-besaran tersebut, tentunya rumah HMI Cabang Yogyakarta akan tampak megah, elok dan indah serta sangat nyaman bagi kader untuk membangkitkan kesadaran kritis, menggali potensi diri dan mengembangkan skill kehidupan.

Agenda perubahan HMI Cabang Yogyakarta bukanlah persoalan yang mudah, sebab perubahan tidak bersifat given ataupun a taken for granted tapi menuntut kesungguhan niat dan konsisten penuh terhadap perkaderan. Agar perkaderan berjalan secara dialektis dan dinamis, ada tiga tingkat perubahan yang harus dilaksanakan.

Pertama, perubahan mindset berpikir/psikis, pencapaian yang ingin dituju adalah mengaktifkan kesadaran kritis (Critical Thingking) kesadaran kritis sangat diperlukan kader (basic need) kemampuan menangkap realitas yang timpang dan diskriminasi, serta memformulasikan alternatif-alternatif maupun terobosan terhadap realitas yang timpang tersebut. Tanpa landasan ini, kader tentunya akan terjebak dalam pemiskinan makna hidup dan akan terlampau jauh tujuan HMI.

Kedua, perubahan pada tingkat wacana/diskursus, perubahan pada tingkat wacana ini menunjukkan sikap politik yang sangat jelas, yang telah bertransformasi untuk memikirkan dan merembukkan scenario masa depan perkaderan, Indonesia dan kemanusiaan, untuk itu sangat dibutuhkan wadah serta instrument pembentukan wacana, semisal forum-forum disksusi pro-realitas dan anti-dominasi, dengan harapan muncul gagasan-gagasan segar yang menjawab problem perkaderan dan kemanusiaan.

Ketiga, perubahan pada tingkat sosial, yaitu membuka kembali ruang-ruang publik perkaderan yang sebelum terlalu gelap, elitis dan tertutup, kemudian menyambung jaring-jaring komunikasi yang sebelumnya terputus, mari kita buang jauh-jauh sifat dan sikap permusuhan yang menciptakan krisis perkaderan. Dan mari mulai ruang publik perkaderan yang baru, sehingga setiap kader mampu menjadikan dirinya martir-martir revolusi, pejuang kemanusiaan.
“Pikiran mahasiswa dirawat melalui tiga dunia: dunia pergerakan, dunia pendidikan, dunia pergaulan”
MAXIM GORKY MUDA
Kader kaleng-kaleng HMI Cabang Yogyakarta

Selasa, 18 Desember 2018

Antara Realita dan Politik: Pimpinan Komisariat Angkat Bicara
Kantor HMI Cabang Yogyakarta disegel (Foto: Sinergia)
SINERGIANEWS.COM - Yogyakarta, Konferensi Cabang (Konfercab) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta periode 2017-2018 dalam penyelenggaraannya yang di mulai pada 16- November 2018 kemarin telah menuai banyak pertanyaan atas segala kejanggalan yang terjadi pada pelaksanaannya. Sebagai cabang yang bersejarah, sudah seharusnya mampu menjaga integritas perkaderan, dan memberikan contoh yang ideal dalam pengelolaan organisasi.

Pertanyaan ini datang dari sejumlah kader Himpunan, terkhusus para Pimpinan Komisariat di lingkup HMI Cabang Yogyakarta. Pasalnya, para personalia Pengurus HMI Cabang Yogyakarta di anggap tidak konsisten dalam melaksanakan Konfercab yang ke-61. Mengakibatkan hajat besar ini terombang-ambing tanpa kejelasan yang pasti.

Kemacetan Konfercab disebabkan sikap pengurus cabang yang seolah melepaskan tanggung jawabnya sebagai penyelenggara, hal ini terlihat jelas, dalam beberapa kali agenda sidang yang tak kunjung berlangsung, di karenakan ketidakhadiran pengurus cabang dan steering committee (SC) tanpa konfirmasi kepada para pimpinan komisariat yang tengah menunggu berlangsungnya forum Konfercab.

Dari sikap ini jelas bahwa pengurus cabang tidak sama sekali menghargai suara para pimpinan komisariat, pasalnya dalam beberapa agenda sidang telah ditemui point-point yang disahkan berdasarkan  kesepakatan yang di buat oleh para pimpinan komisariat, diantaranya adalah meminta kehadiran Ketua Umum dan para personalia pengurus HMI Cabang Yogyakarta, kemudian meminta kehadiran Bidang PAO untuk  menyelesaikan permasalahan status komisariat, namun hal tersebut sama sekali tidak diindahkan oleh para pengurus cabang.

Puncaknya pada agenda sidang yang berlangsung tanggal 4 Desember 2018, kesepakatan terkait menghadirkan Ketua Umum dan pengurus Bidang PAO ini kemudian dipertegas oleh para pimpinan komisariat dengan sejumlah tuntutan yang disepakati bersama dalam forum Konfercab. Diantaranya yakni:

1) Menyelesaikan permasalahan tentang status komisariat yang harus diselesaikan sesegera mungkin oleh bidang PAO; 2) Ketika PAO dan Ketua Umum masih belum hadir maka pimpinan komisarat bersepakat melakukan tindakan represif memboikot Konfercab HMI Cabang Yogyakarta; 3) Jika hal tersebut masih tidak ditindaklanjuti maka, pimpinan komisariat bersepakat untuk melakukan mosi ketidakpercayaan terhadap kepengurusan HMI Cabang Yogyakarta periode 2017-2018.

Dari sekian permasalahan yang terjadi, jelas bahwa  pengurus HMI Cabang Yogyakarta telah gagal dalam menjalankan amanah dan proses perkaderan di lingkup HMI Cabang Yogyakarta. Dan sudah tidak layak melanjutkan kepengurusan cabang. Serta, wajib melakukan evaluasi ektra untuk mengembalikan citra perkaderan di lingkup HMI Cabang Yogyakatra. 

TTD,
Pimpinan Komisariat

Kamis, 13 Desember 2018

Undang SKK Migas, LAPMI Sinergi Yogyakarta Kawal Kedaulatan Energi Nasional
Elan Biantoro, Vice Presiden Bidang Perencanaan SKK Migas yang juga sebagai narasumber dalam kegiatan Launching Majalah Sinergia Vol. XXIII di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat melakukan selfie (Doc. Sinergia)
SINERGIANEWS.COM – Yogyakarta, Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Sinergi HMI Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Front Pemuda Madura (FPM) menggelar soft launching Majalah Sinergia Volume 23 soal ‘Bayang-Bayang Darurat Energi’ dan Seminar Nasional bertajuk ‘Teropong Gerakan Mahasiswa dalam Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional’ di Gedung Teatrikal Perpusatakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu siang, (12/12/2018).

Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya mahasiswa lintas perguruan tinggi di Yogyakarta. Bertindak sebagai pemateri Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro dan Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Waryono Abdul Ghafur.

Direktur Utama LAPMI Sinergi HMI Cabang Yogyakarta, Muchlas Jaelani mengatakan edisi kali ini pihaknya sengaja mengangkat soal isu energi. Pasalnya kata Muchlas, isu kedaulatan dan ketahanan energi belum populer di kalangan mahasiswa.

“Majalah ini berupaya untuk membangkitkan gairah aktivis mahasiswa, terutama dalam memberikan ruang-ruang dialog soal ancaman krisis energi dan upaya mewujudkan ketahanan energi nasional. Karena mesti disadari, dalam beberapa tahun ke depan, energi fosil akan habis akibat konsumsi yang semakin besar. Pada sisi lain, mahasiswa apapun minat dan jurusannya memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendukung program ketahanan energi nasional,” kata Muchlas saat launching Majalah Sinergia.

Sementara itu, Waryono Abdul Ghafur mengatakan salah satu kontribusi yang dapat diberikan mahasiswa dengan melakukan penelitian, guna mencari energi baru terbarukan.

“Oleh karena itu, Perguruan Tinggi (PT) mesti mendukung kegiatan research mahasiswa untuk mencari energi baru terbarukan, sebagai alternatif penggunaan energi fosil. Ini seharusnya menjadi tugas yang mesti diperankan oleh mahasiswa,” kata Waryono.

Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro membuka penjelasannya dengan menguraikan wilayah kerja SKK Migas. Menurut Elan, SKK Migas hanya bekerja pada sektor hulu migas yang meliputi eksplorasi, pengembangan dan produksi.

“Jadi tiga hal itu yang menjadi wilayah kerja SKK Migas,” kata Elan.

Selain itu kata Elan, jumlah produksi migas di Indonesia dari beberapa sumur produksi setiap hari hanya mampu mencapai 700.000 barel. Sedangkan tingkat konsumsi tembus 1,5 juta barel.

“Sehingga untuk menutupi kekurangan itu, Indonesia mesti impor minyak,” tegas Elan.
Sejumlah Crew Sinergia saat melakukan foto bersama dengan Vice Presiden Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro, pasca kegiatan diskusi (Doc. Sinergia)
Milik Semua Orang
Menurut Elan, bisnis migas di Indonesia sebagian besar atau sekitar 24% masih dikuasai Pertamina. Sisanya ada yang dikelola swasta dan perusahaan asing.

Kendati demikian kata Elan, kontraktor asing di Indonesia dalam mengelola sektor migas meski mengikuti mekanisme dan aturan main dari SKK Migas. Salah satunya sistem yang diterapkan adalah production sharing contract.

“Jadi perusahaan asing yang mau melakukan kegiatan eksplorasi migas di Indonesia mesti menggunakan duit sendiri, bukan uang negara. Karena industri migas resikonya sangat besar. Kalau eksplorasi gagal, uang bisa menguap. Tetapi kalau berhasil, maka sistem bagi hasilnya 85% untuk kontraktor dan 15% untuk negara, karena negara memang sepeserpun tidak mengeluarkan uang. Jadi skema kerja sama ini menguntungkan negara,” tegas Elan.

Tidak semua aspek yang dikelola asing, termasuk industri migas kata Elan merugikan Indonesia. Pasalnya sudah ada skema dan aturan main yang jelas bagi semua kontraktor, termasuk perusahaan asing.

“Sekarang kita sedang berupaya untuk mengundang investor sebanyak-banyaknya dalam melakukan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru. Karena tingkat konsumsi semakin besar, maka kita upayakan jumlah produksi juga naik,” kata Elan.

Menurut Elan, SKK Migas ingin mempopulerkan bahwa industri migas itu milik semua orang. Termasuk pemuda dan mahasiswa di kampus. Karena selama ini industri migas dianggap komunitas yang eksklusif, hanya milik para mafia-mafia saja dan pengusaha-pengusaha besar.

"Tetapi jika pemuda melek informasi terkait kegiatan migas, semua bisa jadi transparan. Tidak ada lagi yang ditelikung, tidak ada lagi orang yang dibodoh-bodohi. Maka melek masalah migas bukan hanya tanggung mereka yang jurusan perminyakan, tetapi apapun jurusannya punya tanggung jawab yang sama dalam mengawal upaya ketahanan energi migas nasional" tandas Elan.

Reporter: Faiz Rifqy AK
Editor: Ikhsanuddin Muas