Pemulihan ekosistem pesisir di Desa Kao, Kecamatan Kao, Maluku Utara, menunjukkan hasil signifikan. Tingkat keberhasilan penanaman mangrove mencapai kisaran 90 persen setelah tiga tahun berjalan.
Gerakan penghijauan di wilayah Sungai Naul ini mencakup area seluas kurang lebih 0,8 hektar. Sebanyak 600 bibit mangrove ditanam di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE).
>>> Peradi Bersatu: Penahanan Roy Suryo oleh Polda Metro Jaya Sesuai KUHAP
Proyek lingkungan ini berjalan melalui kolaborasi multipihak.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku Utara, DLH Kabupaten Halmahera Utara, Pemerintah Desa Kao, serta Komunitas Green Kaidati terlibat aktif.
Wilayah yang dahulu mengalami kerusakan kini berubah menjadi ekosistem produktif. Tempat ini juga menjadi habitat bagi beragam satwa liar, dengan pengelolaan berkelanjutan oleh Komunitas Green Kaidati.
Superintendent Lingkungan dari Departemen Health Safety & Environment (HSE) NHM, Rosmini Djufri, berharap kelestarian kawasan ini terus terjaga. Ia menekankan manfaat ekologis dan ekonomi bagi warga sekitar.
>>> Kanada Cukur Qatar 6-0, Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026
"Kami berharap kawasan mangrove ini dapat terus terjaga dan memberikan manfaat jangka panjang, baik dari sisi ekologis maupun ekonomi bagi masyarakat," ujar Rosmini dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).
NHM berkomitmen berkolaborasi dengan komunitas lokal dan pemerintah daerah.
Ketua Komunitas Green Kaidati, Zainudin Hongi, mengapresiasi kontribusi berkelanjutan dalam pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan KEE Kao.
"Kehadiran NHM telah memberikan dampak positif, baik dari sisi peningkatan kualitas lingkungan maupun peluang ekonomi melalui penjualan bibit mangrove," katanya.
>>> Siemens Indonesia Perkuat Transformasi Digital Lewat Kemitraan Strategis
Keberadaan KEE memegang peranan krusial dalam restorasi kawasan pesisir. Fungsinya membendung abrasi pantai dan mengembalikan fungsi lingkungan sebagai habitat biota laut.
Sebelum program bergulir, wilayah pantai Desa Kao sangat rentan terhadap abrasi dan luapan air laut.
Selain melindungi pemukiman warga, hutan mangrove ini berperan menyerap emisi karbon. Kawasan ini juga berpotensi dikembangkan menjadi destinasi ekowisata baru.
Peningkatan kapasitas masyarakat lokal terus dilakukan secara konsisten. Bantuan infrastruktur pembibitan meliputi pembangunan gazebo, instalasi listrik, fasilitas sanitasi, hingga pengadaan tandon air.
>>> RUPST KSEI Kembali Tunjuk Fuad Rahmany sebagai Komisaris Utama
Saat ini, pengembangan pembibitan mangrove telah mencapai 4.300 bibit. Penyiapan bibit dilakukan secara bertahap untuk menyokong usaha pembibitan lokal yang bernilai ekonomi.