Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyoroti rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk menghidupkan kembali program konversi kompor listrik pada 2027.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto meminta pemerintah mewaspadai kesiapan infrastruktur dan kecukupan daya listrik nasional sebelum program dieksekusi secara masif.
>>> Mencari Titik Keseimbangan Baru Pasokan Batu Bara untuk PLTU Jeranjang
Menurut Sugeng, elektrifikasi massal akan mendongkrak konsumsi listrik nasional secara signifikan. Satu kompor induksi membutuhkan daya minimal 1.000 hingga 1.200 watt.
Kondisi tersebut membuat pemerintah atau PT PLN (Persero) harus meningkatkan daya listrik rumah tangga ke minimal 2.200 VA secara massal agar tidak anjlok saat digunakan.
Saat ini, mayoritas pelanggan rumah tangga di Indonesia masih berada di golongan daya 450 VA dan 900 VA.
"Elektrifikasi yang masif tentu akan meningkatkan kebutuhan listrik nasional.
Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan pasokan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut," kata Sugeng saat ditemui di Gedung Nusantara, Rabu (17/6/2026).
Anggaran dan Teknologi Baru
Pemerintah telah menyiapkan anggaran khusus mencapai Rp815,56 miliar untuk menjalankan program kompor listrik pada 2027.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kompor yang akan dibagikan menggunakan model serta teknologi terbaru demi mengoptimalkan efisiensi energi.
>>> IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.191 karena Sentimen Global
"Sebenarnya dahulu sudah pernah mau diimplementasikan. Ada model kompor listrik yang model baru.
Jadi memang makin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama," kata Bahlil saat ditemui usai Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).
Kementerian ESDM saat ini tengah melakukan penataan serta kajian mendalam untuk memastikan efektivitas dari pembaruan perangkat memasak tersebut.
Transisi teknologi ini diharapkan memberikan dampak yang signifikan bagi para pengguna.
"Nah, kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," tambah Bahlil.
Tahap penggodokan intensif dan penghitungan program konversi ini juga sedang berjalan bersama dengan sejumlah pihak terkait.
>>> Kode Redeem FC Mobile 18 Juni 2026: Klaim Gems dan Paket Pemain Gratis
Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan pihaknya masih merumuskan konsep awal program ini.
"Belum sejauh itu, kompor listrik itu baru mau dikonsepkan dulu. Kita masih berhitung, makanya tadi anggaran memang sudah ada indikatornya.
Namun, kita baru mau diskusi dengan Bappenas, karena sekarang paralel sedang melakukan kajian untuk konversi kompor listrik," ujar Eniya.
Kementerian ESDM hingga saat ini belum menetapkan keputusan final mengenai teknis penyaluran maupun wilayah yang akan menjadi prioritas.
Meski demikian, wilayah dengan pasokan listrik yang surplus serta memiliki sistem penyaluran stabil akan menjadi salah satu kriteria utama.
"Belum tahu [terkait dengan penyaluran]. Ini nanti kan kalau pengguna kompor listrik, pasti tempat yang listriknya stabil.
Itu kan salah satu kriteria yang mudah kita prediksi ya, lalu tempat yang mungkin surplus listrik dalam satu sistem.
>>> Bank Indonesia Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan, Ini Tiga Faktor Pertimbangannya
Kita sedang bahas dengan PLN juga," jelasnya.