Kilang-kilang minyak di Asia Timur mulai meningkatkan volume ekspor bahan bakar setelah sebelumnya menahan diri untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Langkah ini diambil untuk mendahului pasar sebelum arus pengiriman melalui Selat Hormuz kembali pulih.
Para pedagang melaporkan peningkatan penawaran spot untuk kargo distilat, termasuk solar dan avtur, dari setidaknya dua perusahaan pengolahan dalam sepekan terakhir.
Kilang-kilang di Korea Selatan menjadi salah satu pihak yang aktif meningkatkan penawaran tersebut.
Kenaikan ini melanjutkan tren yang terjadi sepanjang bulan lalu, didorong oleh tingginya persediaan di beberapa negara Asia.
Pemasok di Asia berusaha menjual lebih banyak produk sebelum gelombang kargo dari kawasan Teluk dilepaskan ke pasar.
Negosiasi dan Tender Pribadi
Penawaran dilakukan melalui negosiasi dan tender pribadi.
Para pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan memperkirakan langkah ini akan menekan harga minyak di Asia dari level tertinggi baru-baru ini, meskipun nilainya diproyeksikan tetap di atas tingkat sebelum perang.
Sejak konflik di Iran pecah pada akhir Februari, negara eksportir utama Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan sempat membatasi penjualan produk demi keamanan energi dalam negeri.
Namun, dengan pembatasan ekspor dari China yang masih berlaku, kilang Asia Timur lainnya mencoba memanfaatkan peluang yang ada.
"Seiring meningkatnya kepercayaan seputar pembukaan kembali, kilang-kilang minyak semakin nyaman melepaskan persediaan dan meningkatkan ekspor," ujar Sumit Ritolia, analis utama Kpler.
Ia menambahkan bahwa hal ini didorong oleh ekspektasi akan ketersediaan minyak mentah tambahan dari Teluk Persia.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan pelemahan setelah pasokan solar Asia mulai diperdagangkan dengan harga diskon sejak awal pekan ini, turun dari posisi harga premium sebelumnya.
Kilang-kilang raksasa di kawasan Teluk Persia merupakan eksportir utama untuk komoditas tersebut.
Berdasarkan data Kpler sebelum konflik, perang antara Amerika Serikat dan Iran telah mengganggu 10 persen perdagangan solar global serta 20 persen pasokan bahan bakar jet dunia.

