Harga minyak dunia bergerak menuju penurunan terpanjang dalam 10 bulan terakhir.
Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi terkait kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
>>> Merdeka Gold Resources Ajukan Proposal HDR di Bursa Hong Kong
Langkah pembukaan jalur laut tersebut diproyeksikan bakal memicu gelombang pasokan baru. Dampaknya, ketatnya kondisi pasar minyak mentah global diperkirakan akan segera melonggar.
Patokan global Brent melemah selama lima hari beruntun hingga di bawah US$79 per barel. Level ini mendekati posisi terendah tiga bulan.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$76. Pakta sementara yang dijadwalkan ditandatangani pada Jumat mendatang menawarkan insentif finansial luas bagi Teheran.
Salah satu poin pentingnya adalah pemberian hak kepada Iran untuk segera menjual minyaknya. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah telah merosot tajam.
Langkah-langkah penyelesaian ketegangan antara Washington dan Teheran dinilai efektif mengurangi kekhawatiran atas pasokan di pasar energi dunia.
Saat ini, para produsen, pengirim, dan pedagang tengah mencermati daya tahan kesepakatan tersebut.
Mereka juga menghitung waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
"Sebagian besar pedagang masih percaya bahwa operasi angkatan laut AS kemungkinan akan mengawal selama beberapa minggu pertama, dan kapal penyapu ranjau juga akan hadir, yang akan memperlambat arus lalu lintas," kata Dennis Kissler.
"Namun, pasar berjangka selalu melihat ke depan, dan untuk saat ini kemungkinan pergerakan minyak makin meningkat," ujar wakil presiden senior untuk perdagangan di BOK Financial Securities Inc tersebut.
>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.748 Akibat Antisipasi Suku Bunga The Fed
Draf memorandum 14 poin memberikan gambaran paling jelas mengenai kesepakatan ini, meskipun detail teknisnya masih difinalisasi.
Langkah ini membuka jalan bagi pembicaraan selama 60 hari untuk mengakhiri konflik secara resmi. Poin-poin tersebut mewajibkan Teheran menjamin keamanan kapal dagang.
Sebaliknya, AS diwajibkan mencabut blokade mandiri yang sebelumnya diterapkan di kawasan Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Pada masa damai, jalur strategis ini mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak global. "Kita berbicara tentang pemulihan bertahap, bukan kembali normal sekaligus," kata Parash Jain.
"Hal terakhir yang diinginkan perusahaan pelayaran adalah mereka menghabiskan dua bulan untuk mengubah rute semua kapal, hanya untuk mengetahui bahwa sebenarnya mereka perlu mengubahnya kembali," tutur kepala riset transportasi dan logistik global HSBC Holdings Plc itu.
Draf memorandum tersebut juga memuat komitmen Washington untuk menerbitkan pengecualian ekspor minyak mentah Iran, produk petrokimia, serta turunannya.
Pengecualian ini mencakup layanan perbankan, asuransi, dan transportasi. Pelonggaran pasar yang cepat ini terlihat dari menyempitnya spread Brent.