⌂ Beranda News Kementerian ESDM Antisipasi Lonjakan Konsumsi Pertalite Pascakenaikan Pertamax

Kementerian ESDM Antisipasi Lonjakan Konsumsi Pertalite Pascakenaikan Pertamax

Kementerian ESDM Antisipasi Lonjakan Konsumsi Pertalite Pascakenaikan Pertamax
Antrean kendaraan di SPBU Pertalite
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memantau ketat penyaluran Pertalite. Langkah ini untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi setelah harga Pertamax naik.

PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter. Pengawasan ketat dilakukan demi menjaga stabilitas keuangan negara.

>>> KAI Wisata Gaet Brand Kecantikan, Kembangkan Konsep Lifestyle di Stasiun

Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan penyesuaian harga mempertimbangkan kemampuan fiskal. Pemerintah mencari titik keseimbangan antara beban anggaran dan kebutuhan energi masyarakat.

"Yang penting masyarakat terpenuhi, tapi di satu sisi beban fiskal juga tidak terlalu berat," ujar Dwi Anggia.

Penyesuaian ini dinilai sebagai jalan tengah.

Harga jual Pertamax masih di bawah harga keekonomian BBM RON 92 di negara tetangga yang mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

>>> IDN Times Gelar Indonesia Summit 2026, Bahas Inovasi Digital Era Algoritma

"Jadi kenaikan atau penyesuaian yang dilakukan sekarang ini sebenarnya masih jauh di bawah harga keekonomian.

Namun ini adalah pilihan terbaik jalan tengah, agar dua-duanya bisa survive," kata Dwi Anggia.

Potensi Migrasi Konsumsi

Pakar energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi memprediksi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Disparitas harga mencapai Rp6.250 per liter.

"Dampak lain migrasi dari Pertamax ke Pertalite akan meningkatkan kuota Pertalite. Kalau tidak ada penambahan kuota Pertalite pascakenaikan harga Pertamax, kelangkaan Pertalite akan terjadi," kata Fahmy Radhi.

>>> Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 Turun ke 120,9, Terendah Sejak September 2025

PT Pertamina Patra Niaga menegaskan keputusan menaikkan harga BBM nonsubsidi telah dikoordinasikan dengan pemerintah. Evaluasi berkala dilakukan terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," kata Roberth MV Dumatubun, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga.

Manajemen Pertamina Patra Niaga memastikan harga Pertalite dan Solar subsidi tidak berubah. Masing-masing tetap Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Pagu anggaran subsidi dan kompensasi energi total tahun ini mencapai Rp381,3 triliun. Kuota Pertalite tahun ini dipatok 29,26 juta kl.

>>> Kecamatan Medan Polonia Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Gangguan PDAM

Hingga 17 Mei 2026, realisasi penyaluran Pertalite mencapai 10,45 juta kl. Angka itu setara 35,74 persen dari total kuota tahunan.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru