Penumpukan kolesterol jahat atau LDL dan trigliserida dapat memicu pembentukan plak pada dinding pembuluh darah. Akumulasi plak selama bertahun-tahun menyebabkan saluran aliran darah menyempit.
Kondisi ini serupa dengan selang air yang tersumbat lumut. Kerusakan pembuluh darah bisa berjalan lebih cepat akibat faktor lain seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan kebiasaan merokok.
>>> AS Serang Iran Selatan, Sistem Pertahanan Udara Teheran Diaktifkan
"Kalau tekanan darah terus tinggi, dinding pembuluh darah lama-lama mengalami erosi. Saat dindingnya rusak, kolesterol lebih mudah menempel dan membentuk plak," jelas dr. Febtusia Puspitasari, Sp.
JP(K), FIHA, FAsCC, FSCAI (PERKI) dalam acara Daewoong Indonesia Heart Talk di WeWork Noble House Jakarta, Selasa (09/06/26).
Serangan Jantung pada Usia Muda
Kasus gangguan jantung kini mulai banyak menyerang kelompok usia muda.
Pasien yang dahulu didominasi usia di atas 60 tahun, kini sering ditemukan pada rentang 20 hingga 30 tahun.
Efek merokok terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah menjadi perhatian serius.
Kandungan karbon monoksida dalam asap rokok dapat merusak fungsi sel darah merah yang bertugas mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh.
>>> TrendForce: Produksi Smartphone Global 2026 Diprediksi Turun 16%
"Sel darah merah yang harusnya mengangkut oksigen justru dibajak oleh karbon monoksida. Akibatnya, proses regenerasi sel tubuh terganggu," katanya.
Zat kimia dalam rokok juga dapat menyamarkan gejala klinis penyakit. Hal ini membuat banyak perokok merasa tubuhnya sehat, padahal pembuluh darah sudah rusak.
Mengenali Gejala Serangan Jantung
Meskipun nyeri dada kiri sering dianggap tanda utama, dr. Febtusia mengingatkan bahwa indikasi serangan jantung bisa muncul dalam bentuk bervariasi.
"Nyeri dada yang khas terasa seperti tertindih beban berat dan bisa menjalar ke lengan kiri, punggung, hingga rahang.
Tapi banyak pasien yang gejalanya tidak khas," ujarnya.
>>> Purbaya Yudhi Sadewa: Kenaikan Harga Pertamax Minim Dampak Inflasi
Beberapa pasien hanya merasakan tubuh cepat lelah saat beraktivitas ringan. Gejala lain meliputi sesak napas saat menaiki tangga atau penurunan stamina yang tidak wajar.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah krusial untuk mendeteksi potensi penyakit jantung secara dini.
Pencegahan Melalui Pemeriksaan dan Gaya Hidup
Pemeriksaan kesehatan berkala disarankan minimal satu kali setahun. Skrining ini terutama dianjurkan bagi individu dengan riwayat diabetes, hipertensi, atau keluarga dengan penyakit jantung.
"Sejak usia 20 tahun sudah dianjurkan mengecek kadar kolesterol, apalagi jika ada faktor risiko dari keluarga," ujarnya.
Menjaga kesehatan jantung juga harus didukung gaya hidup sehat. Pola makan seimbang, konsumsi sayur dan buah, berhenti merokok, serta olahraga teratur menjadi fondasi pencegahan.
Aktivitas fisik ideal dilakukan rutin selama 30 menit sebanyak tiga hingga lima kali per minggu. Olahraga pendek namun konsisten lebih efektif daripada olahraga berat seminggu sekali.
>>> Kurs Rupiah 10 Juni 2026 Melemah Tipis ke Level Rp 17.965 per Dolar AS
"Kita harus mulai hidup lebih sehat supaya tetap bisa menjalankan aktivitas sampai usia lanjut, tetap bermanfaat, mandiri, dan tidak merepotkan orang lain," pungkasnya.